Rakusmu Petakamu

Di hari yang sangat cerah dengan sinar mentari pagi yang begitu indah. Tampak tiga pemuda yang sedang duduk menikmati suasana pagi di bawah sebatang pohon, angin bertiup dengan santai, daun-daun berterbangan berjatuhan di pinggir mereka. Mereka sedang sibuk memikirkan masa depan mereka masing-masing. Mereka berasal dari satu Instasi yang sama namun di kru yang berbeda. Pemuda pertama dari kru B&E, sedangkan pemuda kedua dan ketiga dari kru ISI. Mereka bertiga mempunyai keahliannya masing-masing. Maka bermula lah kisah mereka.

Tiga pemuda ini sudah lama bersahabat, pemuda yang pertama bernama Zaid, pemuda yang kedua bernama Fulan dan pemuda yang ketiga bernama Man. Ketika hari libur mereka bertiga berencana untuk berlibur ke pengunungan dan mereka bertiga sepakat untuk berangkat Bersama. Singkat cerita, ketika mereka bertiga dalam perjalanan menuju pengunungan, di tengah perjalanan, turunlah hujan yang sangat lebat yang mengharuskan mereka untuk berteduh di sebuah gua. Gua tersebut tepat berada di hadapan mereka sekarang. Konon katanya gua ini di huni oleh Raja naga. Sedang mereka berteduh dari lebatnya hujan, tiba-tiba terdengar suara yang menyeramkan dari arah yang tidak di ketahui.

Lalu Zaid berkata, “kita harus waspada, sepertinya dari cerita simpang siur dari masyarakat setempat,  gua ini di huni oleh seekor naga, lebih tepatnya Raja naga”.

Zaid menyuruh si Man untuk mengambil tasnya. Dari tas nya tersebut Zaid mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa sebuah pedang samurai. Namun tiba-tiba muncul api dari belakang mereka di balik sebuah batu besar yang langsung menyambar mereka. Mereka pun dengan cepat menghindarnya. Mereka akhirnya sadar bahwa cerita dari masyarakat itu benar adanya dan api itu berasal dari seekor naga. Mau tidak mau mereka harus berjuang dan menyerang naga tersebut. Di sisi lain Fulan yang sedari awal berniat jahat dan berencana melakukan misi yang diperintahkan oleh komandannya segera meninggalkan Zaid dan si Man yang sedang berjuang melawan naga.

Komandan menghubungi Fulan, “ayo waktunya beraksi sekarang”.

“Baik komandan, segera dijalankan,” jawab si Fulan dengan ekpresi wajah yang sinis dan mulai terkekeh. Dia pun bergegas menghampiri komandannya dan langsung menuju pintu rahasia yang sebelumnya dijaga oleh naga. Fulan sengaja menempatkan Zaid dan si Man sebagai umpan bagi naga agar ia dan kru nya bisa lleluasa melancarkan misi untuk mengambil harta karun di ruang rahasia.

            Komandan, pintu ini sangat susah dibuka,” Kata Fulan seraya mencoba membuka pintu.

“Hancurkan saja”. Jawab Komandan dengan mimic muka yang seperti harimau ingin memburu mangsanya.

Belum sempat Fulan membuka pintu, Zaid dan Man datang. Ternaya mereka berdua sudah berhasil mengalahkan naga api. Mereka berkata, “Hai Fulan rupanya kau berkhianat.”

“Bukan urusan kalian!!” Jawab Fulan dengan marah. Tanpa basa-basi, si Fulan langsung menyerang mereka berdua, terjadilah baku hantam diantara mereka. Namun tanpa mereka sadari sang raja naga ternyata tidak sepenuhnya kalah. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa sang naga  langsung menyerang mereka. Melihat hal tersebut, sang komandan si Fulan mencuri kesempatan untuk langsung menuju tempat rahasia  dan meninggalkan si Fulan. Komandan segera menghubungi pasukannya untuk segera menjemput dirinya dari gua dan mengambil semua harta karun.

Belum sempat sang Komandan mengambil semua harta karun tersebut,  datanglah si Fulan lewat belakang dan langsung menebas leher komandan dengan samurainya.  Pasukan mereka pun jadi kocar-kacir, mereka segera  berlari pulang menuju  markas untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Zaid dan Man pun kini telah berhasil mencincang raja naga dengan senjata pamungkas mereka masing-masing. Ketika itu Fulan menghampiri mereka dan meminta maaf karena telah berkhianat kepada sahabatnya sendiri.

“Aku minta maaf sudah mengkhianati kalian”, rintih Fulan dengan wajah yang memelas. Karena persahabatan meraka sudah terjalin dengan sangat lamanya, akhirnya Zaid dan si Man memaafkan Fulan. Mereka pun mengambil harta karun tersebut untuk bekal mereka nanti dan berjanji akan membagi sama rata harta yang baru saja mereka dapatkan. Namun di tengah perjalanan pulang tiba-tiba mereka merasa lapar.

“Aku merasa sangat haus dan lapar, sedari tadi kita belum makan. Bagaimana kalo kita ambil sedikit dulu harta tersebut untuk membeli makan dan minum sebelum kita membaginya,” saran Fulan pada kedua sahabatnya.

“Baiklah, kami juga merasa sangat lapar,” sahut Si Man dan Zaid secara bersamaan.

Di perjalanan pulang mereka untuk membeli makanan ternyata si Man dan Zaid sudah sedari awal punya niat buruk yaitu ingin membunuh si Fulan dan mengambil harta tersebut untuk mereka berdua. Ketika Fulan sedikit lengah tiba tiba si Man menusuk pisau dari arah belakang dan seketika si Fulan terbunuh. Mereka menyembunyikan mayat Fulan di semak-semak dan kemudian mereka berdua mengambil makanan dan minuman yang mereka beli tadi untuk disantap.

Saat mereka tengah asyik menikmati makanannyaa dan menertawakan si Fulan yang mati sesuai dengan rencana mereka. Mereka berdua tidak sadar bahwa dalam makanan tersebut sudah ada racun yang membuat mereka berdua seketika tewas bersama-sama.  Rupa nya si Fulan juga punya niat buruk terhadap mereka berdua dan ingin menguasai harta tersebut seorang diri. Alhasil harta tersebut tidak sesiapa pun yg memilikinya, karena sudah diawali dengan niat yang buruk maka berakhir pula keburukan terhadap mereka bertiga .

Dari cerita diatas, maka kita sebagai manusia tidak boleh tamak, karena tamak lah yang menimbulkan sifat khianat yang berujung kepada celaka, baik di dunia maupun di akhirat.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *