Di suatu pagi yang cerah, matahari bersinar dengan lembut membangunkan alam. Angin sejuk menyapu daun-daun yang berguguran, menciptakan irama lembut dengan ketenangan pagi.
Di sebuah rumah yang sangat besar hiduplah seorang gadis yang bernama Taqiyya dan keluarganya. Taqiyya gadis yang sangat manja dan juga baik hati, dia adalah siswi yang berprestasi, dia selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya, namun dirinya sangat suka dengan kebebasan. Taqiyya biasa dipanggil dengan sebutan Qiya. Penuh semangat menjalani kehidupan baru. Hari ini adalah hari yang sangat indah bagi Taqiyya karena ayah dan bundanya pergi keluar kota, dia merasa seperti burung yang bebas berkeliaran di alam. “Horeeee….akhirnya aku bebas juga hari ini, aku akan mengajak Syella untuk pergi ke tempat wahana yang sudah lama ingin aku datangi.” Ucap Qiya kegirangan karna kesenangan. Tanpa berpikir panjang Qiya langsung saja menelpon sahabatnya yaitu Syella “Syell…. Kamu ada waktu gak?.” Tanya Qiya dengan penuh semangat
“hemm, ada kayaknya.” Ujar Syella yang merasa aneh dengan Qiya yang menanyakan waktunya di pagi buta. “Horeeeeeee……….” Teriak Qiya kegirangan membuat Syella kaget di seberang telepon sana. “Kamu kenapa sih Qiya?.” Tanya Syella yang kebingungan di buat Qiya.
“Aku jemput kamu ya Syell.” Ucap Qiya tanpa memikirkan pertanyaan dari Syella.
“I,iyaa.” Jawab Syella yang tidak menyadari telepon mereka sudah tidak bersambung lagi.
Tutttttt, tutttttt.
Saat Qiya beranjak bangun, Dia mendengarkan perbincangan asisten rumah tangganya . “Kasian ya non Qiya, orang tuanya berpisah tanpa sepengetahuan dia, pasti non Qiya bakalan syok dengan hubungan bunda dan ayahnya yang sudah berantakan.” Ucap salah satu asisten Qiya di ruang tengah yang membuat mata Qiya terbelalak, jantungnya terasa akan segera copot, dia tidak percaya apa yang sudah dikatakan oleh salah satu asisten rumahnya. Qiya merasa dirinya akan segera hancur, matanya memerah, tubuhnya berguncang kuat.
“kenapa semua ini di rahasiakan sama Qiya?.” Tanya Qiya kepada asistennya itu. Mereka menoleh ke arah Qiya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan mata yang memerah dan wajah yang sangat pucat. Mereka kaget dengan keberadaan Qiya yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. “Non, maafkan kami.” Ucap mereka semua yang sudah membicarakan hal ini di sembarang tempat. Tanpa berpikir panjang Qiya langsung masuk ke kamarnya. Qiya menangis tersedu-sedu mengingat apa yang telah dia dengarkan tadi. “kalian semua jahaaaatttttttt…..” teriak Qiya sejadi-jadinya. Hatinya hancur saat mengingat keluarganya ternyata dalam masalah, dia menangis tanpa henti yang membuat matanya bengkak, hingga akhirnya Qiya tertidur dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Ayah dan bunda Qiya sudah sampai di rumah mereka. Bundanya menangis setelah mengingat dirinya resmi bercerai dengan suaminya yaitu ayah Qiya.
“keluar kamu dari rumah ini.” Ucap Diana bunda Qiya yang berdiri di pintu kamarnya. “aku akan keluar dengan satu syarat, Qiya harus ikut bersamaku” ujar ayah Qiya dengan tatapan yang berkaca-kaca.
“Kamu keluar sendiri dari rumah ini jangan libatkan Qiya, Qiya akan tinggal disini selamanya.” Ucap bunda Qiya dengan tegas kepada ayahnya Qiya.
Qiya terbangun saat mendengar keributan bunda dan ayahnya, dia memberanikan diri untuk keluar menemui ayah dan bundanya yang sedang bertengkar di ruang tengah. “Bundaa, Ayah.” Panggil Qiya dengan nada yang lembut, matanya bengkak dan berkaca-kaca. “kalian semua jahat, bunda sama ayah jahat, kalian telah membuat kehidupan Qiya segera suram.” Ucap Qiya dengan tangisan yang tersedu-sedu.
“Qiyaaa, kamu harus menerima semua ini sayang, kamu pasti kuat kok.” Ucap ayah Qiya sambil mengusap kepala Qiya dengan lembut dan mengecup kepala Qiya, tanpa ayah Qiya sadari, ia telah meneteskan air mata di depan Qiya, membuat Qiya tambah bersedih karna sosok ayah yang Qiya kenal tidak pernah bersedih, dia selalu berusaha baik-baik saja di depan Qiya, namun hari ini adalah hari yang sangat pahit di keluarganya sehingga membuat Dahlan merasa hari ini sangat berat untuk dilalui karena kesalahannya
Diana terpaksa menggugat cerai suaminya karena suaminya ketahuan berselingkuh dikantor dengan rekan kerjanya, namun Diana berusaha menutupi kejadian ini pada Qiya, Diana tidak ingin anaknya membenci ayah kandungnya tersebut. “Ayah jangan pergi yaa.” Ucap Qiya dengan tatapan berharap agar ayahnya tetap bersamanya.
“Maafkan ayah ya Qiya sayang, ayah harus pergi sayang.” Dahlan memeluk tubuh gadisnya tersebut, air matanya berlinang membasahi pipinya membuat Qiya semakin mempererat pelukan hangatnya. Tanpa Qiya sadari, Qiya tertidur didalam pelukan ayahnya.
Qiya terbangun saat hari sudah mulai pagi, burung-burung terbang kesana kemari, matahari terbit untuk menyinari bumi, angin bertiupan menghembuskan ketenangan di kalangan penduduk bumi.
Qiya terbangun dengan mata yang memerah membengkak, suhu tubuhnya sangat hangat membuat Qiya sangat lemas tidak berdaya, dalam batin Qiya, Qiya akan meminta bundanya untuk mendaftarkan dirinya ke pesantren. Qiya langsung bergegas untuk menjumpai sang bundanya, dia akan mengutarakan keinginannya untuk masuk ke pesantren agar dirinya bisa mendapatkan ketenangan disana.
Qiya segera mendatangi bundanya untuk meminta didaftarkan dirinya ke pesantren Darussalam, Agar dirinya bisa tenang dan adil terhadap orang tuanya itu.
“Bunda, Qiya mau didaftarkan ke pesantren Darussalam, Qiya mau jadi anak yang baik untuk ayah dan bunda, supaya ayah dan bunda bisa rujuk seperti semula lagi.” Ujar Qiya dengan tatapan yang sedih.
“Iyaa sayang, bunda akan daftarkan Qiya ke pesantren yang Qiya mau, Asalkan Qiya tidak sedih lagi.” Ucap bunda Qiya dan segera memeluk hangat tubuh Qiya dengan kasih sayang.
Diana berniat untuk memperbaiki pernikahannya yang sudah pecah belah, Diana ingin mengulanginya dari awal dan memaafkan kesalahan ayahnya Qiya yang sudah Khilaf berselingkuh dengan rekan kerjanya.
Diana berharap agar mereka bisa seperti semula, agar Qiya tidak tertekan dengan masalah keluarganya di masa remaja, dimana di masa remaja Qiya, Qiya akan menjadi seseorang yang berprestasi.

