Di pagi hari yang cerah, suasana yang begitu tenang diiringi dengan suara burung berkicau serta cahaya matahari yang menembus ke bumi tampaklah seorang remaja yang tinggal bersama ibunya. Namanya Umar, dia sedang duduk sambil menikmati betapa indahnya suasana pagi.Tiba – tiba datanglah seseorang menghampirinya, “Umar, apakah kamu bisa membantu guru?” tanya guru sembari memegang bahu Umar.
Ternyata orang tersebut gurunya si Umar. Umar pun dengan penuh kesopanan menjawab, “tentu saja bisa saya bantu guru, kebetulan saya pun tidak ada kegiatan selama 9 hari ini karena kegiatan belajar mengajar di pesantren sedang diliburkan, maaf, apa yang boleh saya bantu guru?” Tanya Umar kepada guru dengan penuh penasaran. Secepatnya guru menjawab, “Saya sekarang akan pergi ke ladang untuk menanam mentimun sebanyak dua ratus biji sehingga saya tidak sanggup sendirian, membutuhkan orang lain, apakah kamu mau membantu tanam, Umar?” Sambil berpikir dan penasaran betapa susahnya guru dia pun mau membantunya dengan penuh semangat dan ikhlas.
Umar bersama guru segera bersiap-siap dan langsung pergi ke ladang dengan sepeda motor gurunya. Di dalam perjalanan mereka saling berbincang-bincang, satu sama lain memberikan argumennya masing-masing. Argumen yang di sampaikan mencakup tentang agama, akhirat, dunia dan permasalahan lain.Di sela-sela perbincangan, guru pun memberikan kepada Umar sepatah dua patah kata yang merupakan pernyataan dan sesekali berpesan kepada Umar, “Hai Umar, guru sangat ingin kamu menjadi seorang yang sukses dimana lebih sukses dari guru, guru tidak lama lagi akan menghadapi ajal kematian yang tidak mungkin ditunda atau dipercepatkan” .Mendengar pesan gurunya Umar langsung mengangguk seraya mengatakan, “baik, insya Allah saya akan mematuhi perintah guru dengan cara saya berusaha dan berdoa kepada Allah SWT”. Tanpa Umar sadari, ternyatanya pernyataan gurunya merupakan pernyataan terakhir.
Akhirnya mereka pun sampai ke ladang, di sana mereka menanam bibit mentimun tersebut sampai selesai. Hari pun menjelang petang mereka langsung bergegas pulang ke rumahnya masing-masing. Keesokan harinya, hari masih menampakkan semburan cahaya matahari yang begitu indah, terdengarlah berita dari ibunya bahwa gurunya telah meninggal dunia. Meninggalnya tepat pukul enam pagi seusai melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Mendengar berita tersebut Umar tercengang dan bingung karena kemarin ia telah membantu gurunya ke ladang. Akhirnya dia pun pergi kerumah gurunya dimana gurunya sedang di urus oleh warga untuk dimakamkan. Sebelum dikubur para warga melaksanakan shalat jenazah yang menjadi imamnya adalah Umar yang merupakan muridnya. Singkat cerita setelah pemakaman berlangsung Umar pun langsung pulang kerumah. Sesampainya di rumah dia pun duduk di balai yang berada di halaman rumahnya. Di situ dia termenung terhadap wafatnya guru.
Dalam renungannya umar pun tersadar bahwa pernyataan gurunya kemarin kepadanya merupakan pernyataan terakhir yang belum pernah Umar dengar pernyataan tersebut dari gurunya. Itu tandanya beliau akan segera dijemput oleh ajalnya. Semenjak kejadian itu Umar benar-benar belajar lebih giat daripada biasanya. Akhirnya, dia pun menjadi tokoh agama dan mampu membangun pondok pesantren di desanya, santri di pesantren cukup banyak mencapai ribuan santri, itu merupakan berkat hormat dan patuh kepada gurunya.


