MERAMBAH TEKAD MENEMPUH KIPRAH LEWAT JERIH PAYAH SANTRI

Julukan Aceh yang dikenal sebagai “Seuramoe Mekkah”, menyiratkan bahwa aroma syariat Islam tercium sempurna di tanah ini. Aceh dengan ratusan hingga mencapai ribuan bangunan dayah berdiri di berbagai daerah, baik  kota maupun pelosok desa. Pendidikan dengan metode belajar yang beragam, membuatnya semakin memikat daya tarik para pelajar dari luar daerah untuk belajar ke berbagai dayah di Aceh. Metode pendidikannya adakala hanya berkonsentrasi menelaah kitab kuning yang berlaku di dayah Salafiyah dan juga kolaborasi antara pendidikan Islam dan pendidikan formal yang diterapkan di dayah modern/terpadu.

Dayah merupakan satu-satunya lembaga Islam yang ada semenjak masa kejayaan Islam hingga sekarang. Seiring perubahan masa, beberapa dayah Aceh yang dulunya hanya berkonsentrasi kitab kuning kini mulai dipadukan dengan pendidikan formal. Sejak awal peradaban Islam di Aceh hingga tahun 1903 tidak ditemukan lembaga pendidikan  Islam apapun selain dayah. Karena hanya dayah yang menjadi satu-satunya pusat pembelajaran agama sekaligus sekolah bagi masyarakat Aceh kala itu. Keberadaan dayah yang berperan sebagai lembaga pendidikan, menjadi Pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu agama Islam di Aceh.

LPI DAYAH BABUSSALAM AL-AZIZIYAH JEUNIEB

Sekitar beberapa ratus meter dari arah barat keude Jeunieb, di bibir jalan lintas nasional pulau Sumatera, berdiri sebuah gedung bertingkat berwarna hijau putih  dengan perpaduan  arsitektur bernuansa timur dan modern. Dihiasi dengan tiga kubah kecil dan satu kubah besar berwarna emas yang menjulang di atas gedung, menggambarkan bahwa Islam akan senantiasa berjaya di atas tanah itu. Babussalam Al-Aziziyah, siapa yang tidak kenal dengan Yayasan yang  dipimpin oleh seorang tokoh ulama kharismatik ini. Babussalam al-aziziyah merupakan Dayah Multimedia Aceh (MDA) yang terletak di Desa Blang Mee Barat, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Bukan sekedar memiliki keindahan ukiran arsitekturnya, akan tetapi dayah ini juga sangat kompeten dalam pengembangan ilmu agama, akhlak, dan dakwah Islam di Aceh. 

Yayasan pendidikan Islam (YPI) Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, dipimpin oleh Tgk.H.Muhammad Yusuf Bin Tgk.H.Abdul Wahab atau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Tu Sop Jeunieb. Ayahanda (Tu Sop Jeunieb), membuat beberapa lembaga dan komunitas sebagai kiprah para santri Babussalam Al-Aziziyah untuk perkembangan dayah. Ayahanda akan menjadi pembina dari ketua pengembangan. Beliau mengamanahkan program tersebut kepada Abana (Tgk.H.Ihsan Muhammad Jakfar), karena kekhawatiran beliau amat besar kepada santri yang belum mengenal betul dayah ini. Dan juga dewan guru yang belum mapan dalam berbenah dan menjaga diri. 

SALAFIYAH WITH ASSALAM

Dayah Babussalam Al-Aziziyah menyediakan tenaga pendidik dan kependidikan yang bertalenta untuk mendidik para santri menjadi lebih unggul dan cerdas. Dayah Babussalam Al-Aziziyah dari masa ke masa dapat menghadirkan inovasi-inovasi yang relevan dalam berkolaborasi dengan hadirnya teknologi modern. Perkembangan multitalenta dayah tersebut bisa diandalkan sebagai dorongan untuk mengasah kemampuan para santri dalam berbagai bidang, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler.

YPI Dayah Babussalam Al-Aziziyah bertransformasi mengembangkan dua pola pendidikan, pendidikan salafiyah murni (tafaqquh fiddin) dan pendidikan terpadu (Assalam) yang dikelola secara terpisah. Program salafiyah di komplek Babussalam Al-Aziziyah, terfokus pada pendalaman ilmu aqidah dan syariat pada penguasaan kitab kuning. Sedangkan pendidikan terpadu di komplek terpisah (Assalam) adalah sebuah lembaga yang menyesuaikan pendalaman kitab kuning dan pendidikan terpadu (formal).

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2024-08-13-at-12.37.38-1024x768.jpeg

Komplek Assalam mempunyai beberapa segmen lembaga, yaitu SD IT Assalam Islamic School, SMP Assalam Islamic School, SMA IT Assalam Islamic School, dan Perguruan Tinggi. Setiap Segmen lembaga pendidikan tersebut mempunyai komitmennya masing-masing. SD IT Assalam Islamic School, sebagai wadah pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan formal ke dalam pendidikan dayah. SMP Assalam Islamic school, membentuk siswa yang mampu berbudaya qur’ani melalui program one day one ayat. Dan SMA IT Assalam Islamic School juga punya prinsip yang sama, yaitu untuk membentuk siswa yang mampu berbudaya Qur’ani melalui program one day one ayat. 

Sejak tiga tahun yang lalu, di bawah YPI Dayah Babussalam Al-Aziziyah, lahir sebuah lembaga dengan kontribusi yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas dayah. Peran lembaga yang dikenal dengan sebutan lembaga pengembangan Dayah Babussalam, di dalamnya menghadirkan berbagai program dan berperan sebagai generator penggerak semua program tersebut. Program-program yang dibuat oleh lembaga pengembangan ini mencakup dari program pembinaan, bimbingan, dan juga program untuk melahirkan orientasi-orientasi baru seperti OSMA (Orientasi Santri Mandiri), OKG (Orientasi Kompetensi Guru), LKD (Latihan Kepemimpinan Dasar), KDM (Kader Da’i Muda), SMS (Self Management Student), dan Tahsin Al-Quran.

OSMA, kegiatan untuk memperkenalkan mekanisme lingkungan dayah kepada para santri yang baru masuk. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun keaktifan, kemandirian, dan kedisiplinan para santri dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. OKG, suatu kegiatan untuk mengukur sejauh mana kontribusi para guru dalam berkiprah meningkatkan kualitas pendidikan dayah. Kegiatan OKG ini bertujuan untuk mengasah potensi, serta mendidik karakter para calon guru agar menjadi guru yang berkompeten. Pada acara penutupan kegiatan tersebut, calon para guru disarankan memilih jalan khidmatnya masing-masing untuk dayah. Diantaranya yaitu menjadi pengurus bidang pendidikan, bidang jamaah, bidang gotong royong, bidang korseleting, dan bidang asrama. Bahkan lembaga pengembangan dayah juga termasuk salah satu bagian dari bidang itu. LKD, melatih kompetensi santri untuk menemukan jati diri sebagai seorang pemimpin sebelum memimpin orang lain. Kegiatan ini lebih kepada sistem “leader”, yaitu mampu memotivasi orang lain lewat sikap kepemimpinan yang bijaksana dalam segala hal tanpa memaksakan kehendaknya untuk orang lain. KDM, sebuah organisasi yang berdedikasi untuk membentuk dan mengembangkan generasi muda yang berkualitas dalam dunia keilmuan Islam. Kegiatan ini menyelenggarakan berbagai kegiatan dan program, termasuk lokakarya, pelatihan kepemimpinan, diskusi keagamaan, serta proyek-proyek sosial yang bertujuan untuk memberdayakan komunitas lokal. Sedangkan SMS dan Tahsin Al-Quran adalah program baru yang dibentuk oleh lembaga pengembangan dayah. Program tersebut akan dijalankan pada tahun ini sebagaimana hasil kesepakatan yang telah disepakati bersama. 

BERSAMA AMANAH

Tenaga lembaga pengembangan Dayah Babussalam bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi santri bukan hanya dalam hal tafaqquh fiddin. Tetapi juga menampung berbagai skill yang bermanfaat bagi orang lain, seperti menulis, melukis, menghafal al quran, membaca kitab kuning, kaligrafi, kerajinan tangan, olahraga (sepak bola, tenis meja, badminton, dan lain-lain), public speaking dan mendaur ulang barang bekas. Jadi Babussalam Al-Aziziyah tidak menuntut para santri untuk hanya fokus mempelajari ilmu agama saja, yang dimana bakat lain dari diri mereka di anak tirikan. Karena, apabila keahlian mereka tidak pernah diasah,  maka lama-kelamaan potensi yang ada dalam diri mereka itu akan mati. Seperti kata pepatah “ke bumi gak jadi, ke langit pun gak jadi”.

AMANAH Aceh juga ikut berkontribusi untuk berbagai dayah preneur yang ada di Aceh. Program unggul yang dibentuk oleh presiden Joko Widodo ini, bertujuan memberikan pelatihan sejak dini untuk mengembangkan usahanya dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, seni budaya, teknologi hingga entrepreneurship/UMKM. Pada Rabu, 12 Juni 2024, AMANAH Aceh berkontribusi untuk Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb dengan menyelenggarakan acara “Jep Kupi Ngen AMANAH”. Mereka juga turut mengundang Syakir Daulay dan Tgk. Mufadhal Fuzzari untuk memeriahkan acara tersebut. Program AMANAH tersebut menjadi ekonomi kreatif bagi seluruh masyarakat Aceh, khususnya bagi generasi muda Aceh. Dengan adanya program AMANAH tersebut, santri Babussalam bisa lebih leluasa dalam mengekspresikan bakat mereka.

Semua guru Dayah Babussalam Al-Aziziyah, ikut berpartisipasi dalam berbagai program lembaga pengembangan dayah. Sebagian dari mereka ikut berpartisipasi dalam mengembangkan mutu pendidikan, akhlakul karimah, dan berbagai mutu pengembangan lainnya. Supaya dapat berjalan dengan baik, sebenarnya bukan hanya partisipasi para guru yang dibutuhkan. Akan tetapi program tersebut juga membutuhkan komitmen yang kuat seperti kerja keras dan pantang menyerah untuk membentuk karakter santri menjadi seorang ulama. 

Tgk.H.Muhammad Alfadhil, lebih akrab dipanggil Ustadz Fadhil, ketua lembaga pengembangan dayah Babussalam Al-Aziziyah, dengan komitmennya yang hebat mampu melaksanakan berbagai program yang sesuai dengan hasil mufakat. Sehingga Dayah Babussalam Al-Aziziyah tidak lagi berpangku tangan, bisa mandiri untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas tinggi dengan berdikari sendiri “Berdiri di atas kaki sendiri”. 

Konsep cara kerja lembaga pengembangan dayah ini begitu spektakuler, seperti mengarahkan para guru untuk melakukan pendekatan secara fisik dengan santri. Dalam pemikiran orang-orang, dayah mungkin dianggap mempunyai didikan yang keras. Namun, faktanya Dayah Babussalam Al-aziziyah mendidik para santri dengan rasa cinta dan kasih sayang (rahmah), serta bersikap lemah lembut kepada mereka. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya hamba yang disayangi oleh Allah SWT itu adalah hamba yang memiliki sifat penyayang.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

 Para guru Dayah Babussalam Al-Aziziyah memberikan perhatian lebih dengan sikap bijaksana mereka. Metode yang dibuat oleh lembaga Ini mampu menjadikan para santri yang dulunya nakal menjadi sosok yang berbudi pekerti luhur. Lembaga pengembangan Dayah Babussalam Al-Aziziyah, bukan hanya mentransfer ilmu saja. Akan tetapi, mendidik karakter para santri agar menjadi santri yang bermoral, beradab, dan berakhlakul karimah sehingga pada akhirnya menjadi santri yang mandiri, yang bisa mengabdikan diri untuk agama dan negara sekaligus sukses dunia dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. #amanahaceh #aneukmudaacehunggulhebat #lombajurnalistik #dayahpreneur#lombajurnalistikamanah

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *