Malam itu, kabut menggantung rendah di sekitar Rumah Draxton, bangunan kuno yang terletak di pinggir hutan kota Virelia. Pintu kayu tua yang berderit, jendela-jendela besar yang gelap, dan tembok-tembok yang diselimuti akar pohon berliku membuat rumah itu terlihat seperti bayangan yang hidup, memanggil siapa pun yang berani mendekat. Konon, kutukan telah mengakar dalam fondasi rumah itu sejak keluarga Draxton bergabung dengan sekte sesat puluhan tahun yang lalu.
Cornel Arvian menatap bangunan itu dengan pandangan tajam, ekspresi tegas di wajahnya menyembunyikan gelombang ketegangan yang tak kunjung hilang. Di sebelahnya, Luna Vincent berdiri sambil mengamati pintu depan yang kelihatan semakin mencekam.
“Lo yakin mau masuk, Nel?” bisik Luna, nadanya setengah menantang. “Tempat ini… auranya beda banget dari yang gue kira.”
Cornel mengangguk, matanya menyipit, seolah bisa menembus kegelapan yang mengelilingi rumah itu. “Kita nggak punya pilihan, Luna. Ini mungkin satu-satunya cara buat buktiin kebenaran kutukan keluarga Draxton.”
Langkah mereka akhirnya memasuki Rumah Draxton yang sudah dipenuhi kesunyian mencekam. Di dalam, suasana makin berat, udara terasa dingin menusuk tulang. Luna merasakan bulu kuduknya merinding setiap kali suara gemerisik aneh terdengar dari pojok-pojok ruangan.
Di tengah ruang tamu yang dipenuhi perabot tua, Luna meraih tangan Cornel dan berbisik pelan, “Gue nggak ngerti, kenapa lo bisa yakin ini cuma kutukan? Ini lebih kayak… kemarahan yang dikunci di tempat ini. Setiap sudutnya… bawa aura aneh.”
Cornel tersenyum kecil, tetapi ada kegetiran di balik senyuman itu. “Karena menurut gue apa yang mereka lakukan dulu, bukan cuma ngikutin ritual sesat, mereka ‘ngorbanin sesuatu’ demi kekuatan. Dan lo tau gimana aturan mainnya… semua yang udah dijual harus ditebus.”
Luna terdiam, menyadari seriusnya misi yang mereka emban malam itu. Mereka tahu bahayanya, tapi tak ada jalan kembali. Cornel tahu kalau ia harus melakukan lebih dari sekadar mengakhiri kutukan ini.
Setelah mengelilingi beberapa ruangan, tiba-tiba Luna berhenti. “Lo denger itu gak? Suara… bisikan.”
Cornel mengerutkan kening, menajamkan pendengarannya. Di ujung lorong, suara itu memang terdengar pelan, seperti suara rintihan yang terperangkap bertahun-tahun lamanya. “Mungkin ini sumbernya. Lo siap?” tanyanya sambil menatap Luna dengan sorot penuh keyakinan.
Luna mengangguk, mencoba mengendalikan gemetar di kakinya. Mereka berdua mendekati suara itu, semakin mendalam ke dalam lorong gelap yang terasa seakan tak pernah berakhir.
Namun, di tengah ketenangan itu, Luna merasa tangannya kosong Cornel sudah menghilang.
Luna menggigit bibirnya, menahan panik yang mulai merayap. “Cornel?” bisiknya lirih, namun hanya suara detak jantungnya yang menjawab.
Langkah kaki Luna terdengar menggema di lorong yang semakin menyempit dan gelap. “Cornel, jangan main-main di tempat kayak gini, please.” Suaranya gemetar.
Ia melangkah perlahan, tangannya menyentuh dinding berlumut yang terasa dingin dan basah. Setiap langkah membawa bayangan gelap semakin dekat. Di antara bisikan-bisikan aneh yang terdengar seperti rintihan, Luna mulai merasakan sesuatu yang aneh. Wajah-wajah samar seperti terlihat di permukaan dinding, wajah-wajah yang meringis kesakitan.
“Luna…” sebuah suara serak, hampir tak terdengar, muncul dari dalam dinding.
Luna tersentak, nyaris menjerit, tapi ia menutup mulutnya. Ia tahu itu suara Cornel. “Cornel! Lo di mana?!” serunya panik, mendekati suara itu.
“Ssst… Jangan keras-keras, mereka bisa dengar,” suara Cornel terdengar lagi, tetapi kali ini lebih dekat dan lebih pelan, seolah berbisik langsung ke telinganya. “Gue di sini, Luna, lo nggak sendirian.”
Luna merasakan bulu kuduknya berdiri. Bayangan Cornel mulai samar-samar terlihat, sosoknya memudar seperti asap tipis yang terjebak di dalam kegelapan. “Cornel, gue nggak ngerti… apa yang terjadi sama lo?!”
“Gue cuma… nggak punya waktu banyak lagi. Mereka tahu gue ada di sini, dan gue udah buat mereka marah,” jawab Cornel, nadanya penuh penyesalan. “Luna, lo harus keluar dari sini, sekarang juga.”
Luna merasakan air matanya mengalir. “Gue nggak ninggalin lo, Cornel! Kita datang buat ngakhirin semua ini sama-sama, ingat? Gue nggak bakal pergi tanpa lo.”
Namun Cornel hanya tersenyum samar, seakan tahu sesuatu yang tidak diketahui Luna. “Kali ini lo harus dengerin gue, Luna. Kalau nggak, semua pengorbanan sia-sia… Mereka udah nyantumin nama gue di dinding ini, lo ngerti? Gue udah nggak bisa pergi lagi.”
Luna merasa kakinya lemas. “Lo serius… Mereka udah nyantumin nama lo? Tapi kenapa lo tetep nyuruh gue ke sini?”
“Karena cuma lo yang bisa selamat, Luna.” Cornel mengulurkan tangannya, tapi saat Luna mencoba menggapainya, tangannya hanya meraih udara kosong.
Luna tersentak, menyadari betapa parah situasinya. Cornel benar-benar terjebak, tubuhnya ditarik pelan-pelan kembali ke dalam bayangan. Luna tahu ini adalah akhir Cornel tidak akan bisa diselamatkan.
“Cornel, gue…” Luna terisak, tapi Cornel hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang penuh keikhlasan.
“Gue udah pilih jalan gue, Luna. Kutukan ini… lebih kuat dari apa yang kita kira. Tapi lo masih bisa keluar, lo masih bisa terus hidup.”
Detik berikutnya, bayangan Cornel menghilang, terhisap sepenuhnya ke dalam dinding, meninggalkan Luna sendirian di kegelapan. Dinding di sekelilingnya mulai bergetar, seakan marah karena mereka kehilangan satu korban.
Luna tahu, waktunya tidak banyak. Ia harus kabur dari tempat ini sebelum rumah itu menuntut korban baru. Dengan air mata yang masih mengalir, Luna berlari menuju pintu keluar, tanpa melihat ke belakang.
Saat ia akhirnya keluar dari Rumah Draxton, rumah itu tetap berdiri dalam kegelapan, masih diselimuti kutukan, seolah menunggu mereka yang berani mendekat kembali.
TAMAT
