Organisasi Haba Aneuk Dayah (HAD) hadir sebagai tonggak baru dalam perkembangan pendidikan keagamaan di Aceh, khususnya di kawasan Jeunieb, Kabupaten Bireuen. HAD merupakan wadah yang dirancang untuk menghimpun santri dari berbagai pesantren dalam mendiskusikan hukum-hukum agama secara relevan dengan kehidupan sehari-hari. Organisasi ini lahir dari gagasan santri HARUM (Harapan Ummat), sebuah inisiatif yang berada di bawah lembaga pengembangan Dayah Babussalam Al-Aziziyah.
Didukung penuh oleh para ulama dan guru senior seperti Abiya Jeunieb Tgk. H. Muhammad Yusuf bin Muhammad Nasir, Abinas Jeunieb Tgk. Nasruddin M. Judon, Abana Tgk. H. Muhammad Ihsan M. Jakfar, Tgk. Wahyu Ilhami, dan Tgk. Mustafa Al-Bayuni (Ketua LBM Dayah MUDI MESRA Samalanga), HAD mendapat sambutan hangat dari berbagai dayah di kawasan tersebut. Dayah seperti Rauhul Mudi Al-Aziziyah dan Dhiyaul Haq Al-Aziziyah turut memberikan dukungan penuh.
Struktur Kepengurusan HAD
- Ketua: Tgk. Mukhtar
- Wakil Ketua: Tgk. Multazam
- Anggota:
- Tgk. Rivaldi
- Tgk. Khadafi
- Tgk. M. Nur
- Tgk. M. Aufa
- Tgk. Muhammad Adrian Pratama
- Tgk. Aidil Saputra
- Tgk. Khairun Naja
- Tgk. Safrul
- Tgk. Rifqi Subhan
- Tgk. Thaifur
Visi dan Misi HAD
Visi:
Terwujudnya kader-kader yang mapan dalam mendiskusikan persoalan agama demi mencapai kebenaran.
Misi:
- Pengembangan keterampilan diskusi: Meningkatkan kemampuan kader dalam berkomunikasi dan berdiskusi secara efektif.
- Pendidikan kritis: Memberikan pendidikan yang mendorong pemikiran kritis dan analisis agar kader mampu mengevaluasi informasi dan argumen.
- Peningkatan kesadaran: Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mencari kebenaran dalam berbagai aspek kehidupan.
- Kolaborasi dan jaringan: Membangun jejaring antar kader untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
- Etika dan integritas: Menanamkan nilai-nilai etika dan integritas dalam pencarian kebenaran.
- Melanjutkan tradisi diskusi: Menghidupkan kembali tradisi mubahasah sebagai metode mencari kebenaran.
- Memanfaatkan waktu: Mendorong pemuda untuk berdiskusi tentang agama kapan pun dan di mana pun.
Metode Diskusi dalam HAD
HAD mengedepankan metode mubahasah (diskusi bersama) dalam mengkaji topik keagamaan. Berikut adalah pola yang diterapkan:
- Menentukan tujuan diskusi: Fokus pada pencapaian kebenaran.
- Menyiapkan topik: Membahas hukum-hukum terkait permasalahan umum yang terjadi, termasuk deskripsi masalah yang jelas.
- Menyediakan fasilitas diskusi:
- Moderator: Bertugas memastikan semua peserta mendapat kesempatan berbicara dan menjaga arah diskusi tetap relevan.
- Anggota: Setiap dayah mengirimkan 10 orang, termasuk 2 pencari matan.
- Materi: Matan yang digunakan dibatasi pada 6 sumber dan harus berasal dari ‘ulumul mu’tabarah Imam Asy-Syafi’i. Matan tersebut dikumpulkan di grup resmi HAD.
- Mencatat poin penting: Sekretaris bertugas membuat catatan kesimpulan dari argumen dan poin penting yang muncul selama diskusi.
- Aturan dasar: Menjaga ketertiban, menghormati pendapat, berbicara sesuai giliran, dan tidak memotong pembicaraan.
Manfaat Organisasi HAD
Kehadiran HAD memberikan dampak positif bagi para santri, terutama dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap topik keagamaan. Dengan pendekatan mubahasah yang sistematis, para santri dapat memperdalam ilmu, melatih kemampuan berpikir kritis, dan membangun rasa percaya diri dalam berdiskusi. Selain itu, organisasi ini juga menjadi wadah silaturahmi dan kolaborasi antar dayah, memperkuat persatuan di kalangan generasi muda Aceh.
HAD bukan sekadar organisasi biasa; ia adalah jembatan untuk mencetak generasi yang mapan dalam keilmuan agama, serta menjadikan diskusi sebagai tradisi yang terus hidup. Dengan dukungan para ulama, guru senior, dan seluruh dayah yang terlibat, HAD berkomitmen untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Aceh dan dunia Islam.
Kegiatan HAD
Hingga saat ini, HAD telah menggelar beberapa kegiatan diskusi keagamaan, yang dilaksanakan di berbagai dayah di kawasan Jeunieb. Berikut adalah jadwal acara yang telah berlangsung:
- Tanggal 8 November: Diskusi perdana di Dayah Babussalam Al-Aziziyah, dilaksanakan pada malam Sabtu WIB.
- Tanggal 6 Desember: Diskusi kedua di Dayah Dhiyaul haq Al-Aziziyah, dilaksanakan pada malam Sabtu WIB.
- Tanggal 10 Januari: Diskusi ketiga di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziyah, dilaksanakan pada malam Sabtu WIB.
Kegiatan ini mendapat respons antusias dari para santri dan ulama. HAD berkomitmen untuk terus menyelenggarakan diskusi serupa di masa mendatang, dengan harapan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat Aceh.

