
Di tengah modernisasi yang semakin pesat, tradisi pertanian masih kokoh berdiri di Aceh. Salah satu pilar penting dalam menjaga kelestarian tradisi ini adalah pesantren. Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb misalnya, tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membimbing santri tata cara bertani agar bisa terjun langsung ke dunia persawahan. Kisah Tgk Bulqaini, seorang santri yang berhasil mengelola sawah pesantren, menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama dan pertanian dapat berjalan beriringan. Melalui kegiatan pertanian, pesantren ini tidak hanya menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan di Aceh.
Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb yang terletak di Desa Blang Mee Barat, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen adalah dayah yang memiliki beberapa bidang agraris, diantaranya peternakan kambing, ayam, dan merpati. Peternakan-peternakan tersebut di urus oleh santri-santri dayah, mulai dari memberi makan hingga menjaga kebersihan kandang-kandang hewan tersebut. Dan ini juga sebagai bentuk rasa keta’dziman seorang santri terhadap sang guru selaku pemimpin dayah. Karena ini juga, santri-santri yang ada di dayah mampu melatih diri untuk belajar dalam hal-hal agraris serta menjadi sarana pendidikan yang efektif.
Selain peternakan, Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb juga mempunyai lahan pertanian berupa sawah. Luas sawah yang dikelola oleh Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb sekarang ini seluas 2,5 hektar. Sawah-sawah yang sedang dikelola oleh santri terpercaya Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb sekarang ada di berbagai tempat salah satunya di Peulimbang terdapat sawah seluas 1 hektar 2.600 meter, di Peudada seluas 5.000 meter, dan di Cot Batee Geulungku seluas 7.000 meter. Sawah-sawah tersebut tidak semuanya dikelola oleh santri dayah, hanya dua tempat saja yang dikelola langsung oleh santri dari Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putra yaitu di Peudada dan Cot Batee Geulungku, yang mengelolanya adalah Tgk Bulqaini, Tgk Ahmad Irfan, dan beberapa santri lainnya, mereka adalah orang-orang yang telah dipercayai oleh Ummi dan Ayah untuk mengelola langsung sawah yang merupakan salah satu aset yang dimiliki oleh dayah. Adanya santri yang terlibat langsung dalam pengelolaan sawah menunjukkan adanya transfer ilmu dan pengalaman pertanian dari generasi ke generasi.
Tgk Bulqaini adalah seorang santri yang telah lama mengabdi di Dayah Babussalam Al-Aziziyah putra Jeunieb. Beliau berasal dari Blang Rangkuluh, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen. Ditengah-tengah kesibukannya mengabdi dan memperdalam ilmu agama, Tgk kelahiran 1997 ini bekerja sebagai pengelola area persawahan milik dayah karena pimpinan pesantren telah memberikan kepercayaan penuh kepada beliau untuk mengelola beberapa sawah yang merupakan salah satu aset yang dimiliki oleh Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb.
Tgk .H. Muhammad Hasan A. Wahab selaku pemimpin Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri yang kerap disapa dengan panggilan ayah Hasan atau Tu Hasan, mempercayai Tgk Bulqaini sebagai pengelola karena ayah mengetahui bahwa beliau sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengelola persawahan ketika beliau mengelola sawah milik orang tuanya di kampung halaman.
Beliau berpartisipasi dalam mengelola sawah Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri pada tahun 2020 sampai dengan sekarang ini, beliau sangat menekuni pekerjaannya sebagai seorang petani sawah karena beliau pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk bercocok tanam dan islam pun memandang bahwa sektor pertanian ini merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mendapatkan nilai-nilai kebaikan yang tidak boleh diabaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:“Barang Siapa menanam pohon, maka ia akan mendapatkan pahala dari setiap buah yang dihasilkan pohon itu, hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesulitan awal yang dialami oleh tgk Bulqaini dalam mengelola sawah adalah persoalan biaya dan bahan-bahan lainnya yang harus dipersiapkan, seperti pupuk, obat semprot, benih dan bahan-bahan lainnya dalam sekali masa tanam yang hampir mencapai 60% dari hasil panen. Sumber benih yang akan ditanam tidak menentu ada juga yang dibeli dan ada juga yang diambil dari hasil panen sebelumnya.
Untuk membantu pemupukan dan menghemat pengeluaran biaya, biasanya Tgk memanfaatkan jerami bekas dari hasil panen padi sebelumnya dan dijadikan sebagai pakan penghijauan terutama pada tanah yang sudah kering dan tandus. Jerami yang sudah membusuk mengandung bahan organik sehingga dapat mengembalikan sifat mikrobiologi tanah yang rusak akibat penggunaan pestisida secara berlebihan.
Menurut Tgk Bulqaini tantangan keseluruhannya di mulai dari membajak tanah, menghilangkan gulma-gulma yang umumnya merugikan tanaman karena dapat menghambat pertumbuhan sehingga bisa mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas produksi karena berpenyakit dan menjadi sarang hama sehingga dapat menggagalkan panen, dan ditambah lagi dengan cuaca yang tidak bersahabat sehingga dapat menggagalkan hasil panen yang maksimal sesuai yang diharapkan.
Hasil panen padi Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Sebagiannya akan dijual kepada tengkulak. Tengkulak adalah perantara yang membeli hasil panen dari petani kemudian menjualnya lagi ke pasar yang lebih besar, seperti agen ataupun pengelola pabrik beras. Dengan begitulah cara Tgk Bulqaini untuk mendapatkan penghasilan dalam setiap kali panen , namun sayangnya harga yang ditawarkan tengkulak seringkali lebih rendah dari pada yang Tgk jual langsung. Sebagian hasil panen lagi akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pertanian padi di Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb. Mudah-mudahan kedepannya dengan pendekatan yang lebih baik dan berkelanjutan, diharapkan produksi padi bisa meningkat, kualitasnya lebih baik lagi, sehingga pada akhirnya kita sama-sama mendapatkan pahala kebaikan, bisa bermanfaat bagi orang lain, dan dapat membantu meringankan perekonomian bagi para petani dan juga masyarakat di sekitarnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Artinya:
“Tiada seorang pun Muslim yang menanam sebuah tanaman atau membudidayakan sebuah lahan pertanian, kemudian diam-diam ada seekor burung, seorang manusia, atau seekor binatang ternak yang makan dari tanaman atau lahan pertanian tersebut, kecuali apa yang dimakan (dari tanaman atau pertanian) itu menjadi sedekah yang pahalanya kembali kepadanya.”
(H.R. Bukhari & Muslim).

Pendapatan yang dihasilkan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Putri Jeunieb dari hasil menanam padi tersebut tidak selalu stabil dikarenakan oleh perubahan cuaca dan keadaan. Apabila keadaannya baik dan mendukung maka hasil pendapatannya juga memadai. Contohnya seperti sawah di Peulimbang yang luasnya mencapai 1 hektar 2.600 meter bisa mendapatkan hasil panen sekitaran 9-10 ton padi yang kemudiannya disisihkan sebanyak 900 kg – 1.000 kg untuk menunaikan kewajiban pembayaran zakat. Jika padi tersebut mengalami gangguan misalnya seperti serangan hama, maka hasil panen akan menurun secara drastis dan hanya dapat menghasilkan 5-6 ton padi sehingga hasil panen yang dapat disisihkan hanya 500 kg – 600 kg untuk menunaikan kewajiban pembayaran zakat. Kewajiban menunaikan zakat yang harus dikeluarkan bukan dihitung dari segi luas lahan yang dimiliki melainkan dari segi hasil panen yang di dapati, biasanya dalam 1 ton hasil panen diperoleh zakat sekitar 100 kg padi hingga seterusnya.
Biasanya padi di panen dalam setahun maksimal dua kali, tapi ada juga yang setahun sekali. Para petani Aceh sering menyebutnya dengan “MEU ‘U THON SALAH WATEE” contohnya tahun ini karena kondisi cuacanya yang cenderung kemarau, para petani merasa kewalahan dalam mencari air yang bersumber dari sistem irigasi untuk mengairi sawah mereka.
Pertanian di dayah memberikan banyak manfaat, baik bagi santri maupun dayah itu sendiri. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, akan tetapi juga keterampilan hidup yang sangat berguna bagi masa depan. Pertanian di dayah juga dapat meningkatkan rasa persatuan dan gotong royong, santri bekerja sama dalam mengelola lahan pertanian yang dapat membuat para santri belajar menghargai potensi alam Indonesia, menjadi sarana rekreasi yang menyehatkan dikarenakan bekerja di alam terbuka, dapat menghilangkan stres dan menyegarkan pikiran.
Kini AMANAH hadir ditengah-tengah dayah preneur untuk mengoptimalkan mutu dan bakat santri dalam memutar perekonomian. Hadirnya AMANAH sangat berpengaruh dalam menjadikan Aneuk Muda Aceh sebagai generasi hebat yang berani bersuara. AMANAH (Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat ) adalah suatu program unggulan yang dibuat oleh presiden Joko Widodo dalam bidang pemberdayaan yang bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin anak muda Aceh dari berbagai bidang ekonomi kreatif, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, olahraga, teknologi, seni budaya, dan disertai juga dengan entrepreneurship atau sering disebut dengan UMKM. Gedung AMANAH berlokasi di kawasan industri KIA LADONG, Aceh.
Pesantren dan pertanian adalah dua pilar penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dengan menjaga kelestarian keduanya, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membuka peluang untuk masa depan pertanian Aceh yang lebih cerah.
Kisah Tgk Bulqaini menginspirasi kita untuk terus mengembangkan potensi pertanian Aceh, sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita bersama.
“SIAPA YANG MENABUR BENIH , DIA AKAN MEMANEN”
(Tgk.Ahmad Irfan)
kata-kata ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan itu berasal dari usaha yang kita lakukan.



