“Mulia jamee ranup lampuan, mulia rakan mameh suara“, begitulah bunyi syair dari orang Aceh terdahulu. Ranup, atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan sirih, adalah tradisi serta warisan turun-temurun yang sudah dijaga sejak ratusan tahun yang lalu. Di Aceh, ranup memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, bahkan sudah menjadi simbolis tersendiri untuk rakyat Aceh. Ranup bisa menjadi simbol penghormatan saat disuguhkan kepada tetamu, bisa juga bermakna janji saat memulai ikatan pernikahan. “Meunyo han jipeutaba ranup, nyan tanda goh lom akrab” (jika belum saling menyuguhkan ranup, itu tanda belum akrab). Pernyataan ini sudah sering didengar oleh masyarakat Aceh, di mana ranup bahkan menjadi patokan untuk hubungan dan kedekatan sosial masyarakat.
Biji pinang yang dibalut dalam daun sirih dan kapur ini dikonsumsi dengan cara yang sederhana—cukup dikunyah dan didiamkan dalam mulut. Biasanya, orang yang mengunyah ranup akan memiliki ciri fisik yang mencolok, ditandai dengan mulut, bibir, gigi, dan air liur yang tampak memerah, akibat dari reaksi alami bahan-bahan yang dikandung ranup, terutama pinang.
Jauh sebelum sampai ke Aceh, ranup sudah lebih dulu dikonsumsi oleh orang-orang terdahulu. Catatan rihlah karya Ibnu Battuta mengatakan bahwa kebiasaan mengunyah sirih atau dikenal juga dengan “betel nut chewing”, sudah ada sejak ratusan tahun lalu di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, diperkirakan sekitar tahun 1334–1341 M. Awal mula masuknya tradisi mengunyah sirih ke Nusantara adalah melalui bangsa Austronesia yang bermigrasi ke kepulauan Nusantara. Saat itulah mereka membawa bibit-bibit tanaman sirih dan pinang sebagai bahan kebutuhan ritual dan kesehatan.
Untuk wilayah Aceh sendiri, penyebaran tradisi mengunyah ranup (sirih) diawali oleh hubungan perdagangan dengan bangsa India. Dalam naskah kuno India menyebutkan bahwa sirih adalah bahan medis yang efektif untuk membersihkan mulut dan menghangatkan badan. Pengaruh dari bangsa India ini kemudian “meunanggroe” di Aceh.
Tetapi seiring berubahnya zaman dan dinamika sosial budaya, ranup perlahan mulai dilupakan, bagaimana tidak? Ranup yang dulunya memiliki peran sebagai “permen harian” orang Aceh, sekarang sudah beralih fungsi sebagai hal yang jauh lebih formal dan sakral. Yang dulunya sangat mudah dijumpai sekarang hanya muncul sesekali sebagai penanda bahwa sedang terjadi hal-hal yang istimewa nan mulia. Bagaikan perpisahan yang bahkan tak pernah ada kata selamat tinggal. Kehilangan secara perlahan ini membuat masyarakat mulai melupakan apa yang telah dilalui ranup dan sejarahnya. Bahkan kebanyakan anak-anak Aceh sekarang sudah tidak mengenali apa itu ranup.
Demi menjaga kelestariannya agar tetap ada dan tidak terlupakan, sekarang ranup telah bertransformasi menjadi suatu simbolis untuk acara adat yang dinamakan dengan “ranup hias”. Ranup hias, adalah susunan ranup yang dirangkai sedemikian rupa dengan menggabungkan ranup serta bunga-bunga menjadi bentuk yang unik dan menarik. Sama halnya dengan adat sirih junjung dari Melayu. Saking identiknya dengan ranup, bahkan acara lamaran di Aceh lebih dikenal dengan istilah “ba ranup”. Di mana keluarga laki-laki mengunjungi keluarga perempuan dengan membawa ranup sebagai simbol penghormatan, kesungguhan niat, dan penguat ikatan.
Agustina, seorang guru seni budaya dan prakarya yang aktif mengajar di SMA IT Assalam Islamic School, anak pertama dari tujuh bersaudara. Lahir dan tumbuh besar di Gampong Blang Kuta Dua Meunasah, Kec. Simpang Mamplam, Kab. Bireuen—sebuah kampung yang sudah masyhur dengan budaya pelestarian ranup hias yang kental dan sangat terjaga bahkan sampai sekarang. Sudah lumrah jika seseorang membutuhkan ranup hias, maka Gampong Blang Kuta Dua Meunasah selalu menjadi destinasi utama untuk mendapatkannya. Hal ini disebabkan oleh faktor ketenaran serta banyaknya pengrajin ranup hias yang lahir di sana.
Tumbuh di lingkungan yang sangat menjunjung budaya ranup hias membuat wanita berusia 32 tahun itu mengenal banyak hal tentangnya. Tahun 2014 para tetua kampung sepakat untuk menyelenggarakan lomba merangkai ranup hias, bukan tanpa alasan. Lomba ini bertujuan mencari penerus tradisi yang sudah menjadi profil dari kampung tersebut. Bersama seorang teman, Agustina ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Dengan tekun, Agustina muda yang belum berpengalaman mulai belajar untuk bekal mengikuti lomba dengan hanya bermodal menonton video tutorial di YouTube dan bahan seadanya. Tapi siapa sangka, berkat kerja keras, ia berhasil meraih peringkat pertama mewakili Dusun Cot Kuta—tempat tinggalnya.
Sejak saat itu, namanya sebagai pengrajin ranup hias mulai terkenal di kalangan masyarakat, orderan ranup hias pun mulai berdatangan. Hari demi hari, Agustina semakin mahir merangkai ranup hias dengan bentuk yang lebih beragam. Tahun 2018 dan 2019, Agustina kembali mengikuti perlombaan mewakili kampungnya di tingkat kecamatan. Di kedua edisi tersebut ia kembali menunjukkan kemahirannya dengan memenangkan peringkat pertama. Dan di tahun 2019, Agustina sukses membuat juri terpukau dengan hiasan ranup ikonik berbentuk kupiah meukutop.
Tahun 2021, ia diundang menghadiri acara amal di Gampong Sampoe Ajad, Kec. Jeunieb, Kab. Bireuen, untuk membagikan ilmunya tentang ranup hias kepada masyarakat di sana. Tekad masyarakat setempat untuk bisa merangkai ranup hias sendiri membuat mereka belajar dengan tekun dan giat. Berkat kehadiran Agustina, acara tersebut berjalan dengan lancar dan sesuai harapan.
Keahlian tidak menjamin kemudahan. Begitu pun Agustina yang juga merasakan kesulitan terutama dalam pencarian bahan serta waktu yang tepat dalam pemasangan bunga. Bahan utama yang digunakan yaitu daun sirih, serta media dasar seperti pelepah pisang, kardus, atau styrofoam tergantung bentuk yang ingin dibuat. Untuk aksesoris pelengkap biasanya menggunakan berbagai jenis bunga di antaranya: bunga biduri (rubek), sitahon, pekan, kembang sepatu (khusus untuk hiasan kupiah meukutop), melati, bunga rumput liar kuning, kenop, bunga kertas, bunga pepaya (biasanya untuk menggantikan melati), dan juga asoka. Membuat ranup hias juga menggunakan peralatan khusus seperti rampagoe, gunting, pisau, cerana (batee ranup), dan jarum pentul. Agar ranup hias buatannya tetap segar saat sampai ke tangan pemesan, tak jarang Agustina memasang bunga sejak pagi-pagi sekali.
Untuk terus melestarikan budaya ranup hias agar tidak punah. Agustina memanfaatkan profesinya sebagai seorang guru, untuk mengajarkan para muridnya tata cara merangkai ranup hias. Seperti para tetua kampungnya dahulu yang tidak ingin budaya bangsa hilang begitu saja, Agustina pun turut berupaya keras dalam mewariskan budaya tersebut.
Di era yang serba praktis seperti sekarang, di mana budaya menyerahkan ranup untuk acara adat sudah mulai tergantikan dengan bingkisan yang lebih modern. Agustina masih berkutat dengan budaya nenek moyang, ia tidak mau budaya bangsa hilang begitu saja. Sosok sepertinya bukan hanya seorang pengrajin ranup hias, tetapi juga penjaga budaya. Dengan gigih dan tabah wanita kelahiran 1994 itu membuka jalan bagi mereka yang ingin ikut serta dalam menjaga dan melestarikan budaya. Karena membuat ranup hias bukan hanya soal merangkai keindahan, tapi juga mengenalkan kepada generasi muda tentang budaya warisan bangsa yang tak boleh hilang ditelan masa.
