Elio merasa ada yang salah dengan kota Lunaris sejak pertama kali dia tiba disana. Kota itu sepertinya tak pernah berhenti berbicara dalam bisikan yang samar, sebuah sensasi yang terasa asing meskipun semuanya tampak biasa saja. Tapi malam ini, ketika senja merayap perlahan, ada sesuatu yang membuatnya berhenti di depan sebuah gang sempit yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Di ujung gang itu, ada cahaya. Cahayanya berkelap-kelip seperti lampu jalan yang hampir padam, tetapi menarik matanya dengan kekuatan yang tak bisa ia pungkiri. Tanpa banyak berpikir, Elio melangkah masuk.
“Kenapa kamu disini?”
Suara itu datang dari belakang. Elio membalikkan badan dan mendapati seorang gadis berdiri di bayangan. Wajahnya tersembunyi di balik kerudung yang robek.
“Siapa kamu?” tanya Elio agak terkejut, meski tidak merasa terancam. Ada sesuatu yang aneh tentang sosok itu.
“Aku Senja.” Jawabnya pelan. “Dan kamu sudah terjebak.”
Elio mengerutkan dahi. “Terjebak? Maksudnya?”
Senja tersenyum tipis. “Dunia ini bukan tempatmu. Kamu hanya bisa kembali jika kamu menghadapinya, Elio.”
Menghadapinya? Apa maksudmu?” Elio bertanya, namun saat itu dunia sekitar mereka berubah. Bayangan di sekitar gang itu mulai memanjang seperti merenggut realitas mereka. Kabut tebal muncul, dan suara langkah kaki yang sebelumnya hanya miliknya kini bergema di sekitarnya. Elio merasa ada sesuatu yang mengikuti.
“Tidak ada jalan kembali kalau kamu tak tahu apa yang ada di dalam dirimu,” kata Senja, menghilang ke dalam kegelapan kabut.
Elio mengikutinya, merasa bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari tempat ini adalah menemukan jawabannya. Kabut mengerumuni mereka menutupi jalan keluar, dan mengubah setiap sudut kota menjadi sesuatu yang asing dan menakutkan.
Di sebuah sudut jalan yang sepi, Elio menemukan Nara, sahabatnya, yang juga terjebak di dunia ini. Wajah Nara terlihat pucat, matanya kosong, seakan hidupnya mulai terkikis oleh kegelapan ini.
“Elio… Kamu akhirnya datang,” kata Nara dengan suara serak. “Aku sudah merasa ada yang salah sejak pertama kali kita masuk ke sini.”
“Kenapa kamu berubah seperti ini, Nara?” Elio bertanya, merasa cemas.
“Aku… Aku tidak tahu. Seperti ada yang menarikku lebih dalam, dan aku tidak bisa keluar,” jawab Nara, tangannya gemetar. “Elio, kamu harus tahu, dunia ini adalah cermin dari apa yang kita takutkan. Itu akan terus menghantui kita.”
Senja muncul di depan mereka, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan kesedihan. “Semua orang yang terjebak di sini membawa beban yang harus mereka lepaskan. Hanya dengan begitu kamu bisa keluar.”
“Beban apa? Aku nggak ngerti, Senja!” Elio hampir berteriak. “Apa yang harus aku hadapi?”
Senja menatap Elio dalam diam, lalu berkata, “Kamu harus menghadapi dirimu sendiri, Elio. Apa yang kamu sembunyikan dalam hatimu yang paling dalam.”
Elio merasa tenggorokannya tercekat. Semua perasaan yang selama ini ia coba lupakan mulai muncul, menghantui dirinya perasaan bersalah yang membebaninya. Ia teringat akan masa lalu yang kelam, sesuatu yang tidak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri.
“Jadi, kalau aku nggak bisa melepaskan ini… aku nggak bisa keluar?” Elio bertanya, matanya mulai dipenuhi keraguan.
Senja mengangguk pelan. “Benar. Dunia ini akan terus menghantui siapa pun yang tidak bisa melepaskan apa yang mereka takutkan. Bahkan kenangan yang baru kamu buat di sini, kenangan tentang aku akan mengikatmu di dunia ini. Elio, kamu harus melupakan aku agar bisa keluar. Itu adalah bagian dari dirimu yang harus dilepaskan.”
Elio terdiam, bingung. “Tapi… kita baru saja bertemu. Kenapa aku harus melupakanmu?”
Senja mendekat, wajahnya terlihat semakin gelap. “Karena ini bukan tentang aku, Elio. Ini tentang apa yang aku wakili tentang rasa takutmu. Tentang bagaimana kamu selalu melarikan diri dari kenyataan yang harus kamu hadapi. Aku hanya cermin dari ketakutanmu. Kalau kamu ingin keluar, kamu harus melepaskan semua itu. Termasuk aku.”
Elio merasakan berat di dadanya. “Tapi, aku nggak bisa… Aku nggak bisa melupakan seseorang yang baru saja aku temui. Aku nggak bisa lupa tentang kamu.”
“Jika kamu tidak bisa melupakan aku, kamu akan terjebak di sini selamanya,” jawab Senja dengan suara rendah, seperti bisikan yang menembus hati Elio.
Dengan hati yang berat, Elio akhirnya membuat keputusan. Dengan mengorbankan semua kenangan tentang Senja, tentang dunia bayangan yang mengerikan ini, dia berhasil keluar. Namun, dunia Lunaris yang dia kenal kini terasa asing. Setiap kali dia melihat senja yang terbenam, ada kekosongan yang mengganggu. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi ia tidak bisa mengingat apa.
Di suatu malam, saat Elio berjalan di jalan yang sama, dia mendengar bisikan yang datang dari bayangan. “Elio…” Suara itu lembut, seperti Senja memanggil namanya dari jauh.
Elio tahu, bahwa meskipun dia telah keluar dari dunia bayangan itu, dunia itu akan selalu ada di dalam dirinya. Kenangan tentang Senja, tentang dunia yang terdistorsi, tidak akan pernah benar-benar hilang. Setiap senja yang datang hanya mengingatkannya pada apa yang telah hilang dan apa yang telah ia relakan.
Dan dalam kegelapan, ketika bayangan kembali mengikutinya, Elio tahu bahwa dunia bayangan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu, di antara cahaya dan kegelapan, untuk kembali mengambilnya kapan saja.
TAMAT
