Langit di kota Lunethra terasa mati. Tak ada bulan, tak ada bintang hanya gelap pekat yang menekan. Nathan tersentak bangun di tengah jalan yang sunyi. Tubuhnya lemas, kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu menghantam dari dalam. Sepi tak ada suara, dan tak ada tanda kehidupan. Hanya deretan gedung-gedung tinggi yang berdiri bisu, ditemani lampu-lampu jalan yang berkedip samar, seperti ingin padam tapi masih dipaksa menyala.
“Di mana aku?” bisiknya suara seraknya menggema, tak ada yang menjawab.
Nathan mulai melangkah perlahan namun, setiap gerakan terasa berat seperti jalanan itu enggan membiarkannya pergi. Angin dingin menusuk kulit, membawa aroma aneh yang tak dikenalnya paduan logam dan sesuatu yang membusuk. Telinganya menangkap suara samar, seperti bisikan yang jauh tapi terasa dekat.
Tiba-tiba pandangannya terpaku di antara reruntuhan gedung yang remuk, bayangan itu muncul bergerak cepat nyaris tak terlihat.
“Hei! Siapa di sana?” Nathan mencoba mengeraskan suara, tapi yang keluar hanya sisa keberanian.
Bayangan itu semakin jelas, tubuhnya tinggi bengkok, dan gelap seperti jelaga. Nathan membeku saat sosok itu berbalik. Matanya merah membara, dan wajah itu… wajah Nathan sendiri.
“Aku adalah kau,” ucap bayangan itu dengan suara rendah dan serak, penuh kekuatan yang menggetarkan. “Aku adalah bagian dari dirimu yang kau sembunyikan. Ketakutanmu, kebohonganmu, semuanya.”
Nathan mundur, tapi langkahnya seakan tenggelam dalam aspal. Sosok itu mendekat, bayangannya menjalar seperti tangan yang ingin meraih.
Nathan mencoba kabur, kakinya berlari secepat mungkin, tapi kota itu seperti tidak ada ujungnya. Jalanan berubah menjadi labirin, setiap belokan membawa dia kembali ke tempat yang sama.
Suara langkah berat sosok itu mengikuti, meskipun Nathan tidak berani menoleh ke belakang. “Kenapa lari?” suara bayangan itu bergema, terdengar seperti ribuan bisikan yang menyatu. “Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku Nathan.”
Tiba-tiba dia terhenti di persimpangan jalan. Di depan matanya sebuah pemandangan mengerikan terbentang. Ada sosok-sosok lain bayangan samar yang menyerupai orang-orang dari masa lalunya.
Di sana ada ibunya, menangis dengan wajah pucat. “Kamu harusnya bisa menyelamatkan aku,” katanya dengan suara penuh penyesalan. Disisi lain ada seorang anak kecil, dirinya sendiri yang menangis sendirian di pojokan gelap.
Nathan terjatuh, tubuhnya gemetar. “Apa ini? Apa yang kalian inginkan dariku?”
“Kami adalah ketakutanmu,” sosok bayangan itu mendekat, suaranya semakin menyeramkan. “Dan kami tidak akan pergi sampai kau menerima kami.”
Nathan akhirnya bangkit perlahan menghadapi semua wujud itu. “Aku tidak bisa lari lagi,” katanya dengan napas berat. Dia menatap sosok bayangan yang terus mengawasinya. “Kalian adalah bagian dari diriku… Tapi kalian tidak akan pernah bisa mengontrol hidupku.”
Bayangan itu membeku, lalu mulai retak seperti kaca yang pecah. Satu per satu wujud ketakutannya lenyap meninggalkan kota kosong yang kini mulai terang. Kabut perlahan memudar, dan sinar matahari yang pertama kali muncul terasa menyengat kulit Nathan.
Sebelum semuanya lenyap, bayangan itu berbisik, “Jangan pernah lupa siapa dirimu.”
Nathan terbangun di ranjangnya sendiri, napasnya masih tersengal. Kamar itu terasa hangat, nyata, tetapi jauh di lubuk hatinya dia tahu, apa yang dia lihat bukan sekadar mimpi.
TAMAT
