Milka terbangun dari tidurnya, ia berusaha meraih handphone yang berada di atas nakas untuk memastikan sudah jam berapa sekarang. Alara Milka Sufia mahasiswa di Universita Indonesia, prodi Arsitektur. Gadis desa yang merantau ke kota demi terwujudnya cita-cita. Hidup jauh dari orang tua bukanlah salah satu impiannya, namun sekarang ia harus rela berjauhan dengan orang tuanya demi cita-cita yang telah diimpikannya sejak kecil. Milka, yang terbiasa dengan kehidupan sederhana di desa, harus beradaptasi dengan hiruk pikuk kota dan persaingan yang ketat di dunia perkuliahan.
Di tengah-tengah kesibukan Milka mengurus kerja kuliahnya, ia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia tidak mau membebani mamanya di kampung yang sedang berada dalam masa iddahnya. Ia bekerja sebagai barista di sebuah restaurant terkenal yang tidak jauh dari kostnya.
“Duri mawar” gumam Milka, menatap buku-buku tebal di mejanya. Ia merasakan duri-duri itu menusuknya setiap kali ia menghadapi kesulitan. Tugas-tugas berat, deadline yang mendekat, dan persaingan yang tak kenal ampun, dan harus kehilangan ayahnya saat ia sedang tidak bisa libur karena ia harus fokus menyusun skripsi terlebih dahulu membuat Milka terkadang ingin menyerah.
Namun, Milka bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah. Ia teringat pesan mendiang ayahnya, “Anakku, jangan pernah lupakan cita-citamu. Kau ibarat mawar yang kuat, duri-duri itu hanya akan membuatmu lebih tangguh.”
Milka bangkit dari keterpurukannya, tekad nya bulat. Ia belajar dengan tekun, berdiskusi dengan teman-temannya, dan mencari solusi atas setiap kesulitan yang dihadapinya. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus, mengembangkan bakatnya dan memperluas jaringan pertemanan.
Hari demi hari, Milka terus berjuang meraih mimpinya. Ia melewati masa-masa sulit dengan tekad yang kuat dan semangat yang tak pernah padam. Ia belajar dari kesalahan, bangkit dari kejatuhan, dan terus melangkah maju tanpa mengenal kelelahan.
Pernah Milka ketiduran di perpustakaan kampus karena terlalu capek mengerjakan laporan-laporan yang ditugaskan oleh dosen, dan keesok harinya jatuh sakit disebabkan oleh kurangnya waktu istirahat. Sebagian besar dari waktu yang Milka miliki ia pakai untuk belajar.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Milka berhasil menyelesaikan studinya dengan gelar S.Ars (Sarjana Arsitektur), bahkan dengan predikat cumlaude. Ia berhasil membuktikan bahwa duri-duri mawar yang pernah menusuknya telah membuatnya menjadi lebih kuat dan tangguh.
Senyum bahagia terukir di wajah Milka saat ia menerima ijazahnya, namun sayangnya ibu tercinta tidak dapat hadir karena masih berada dalam masa iddahnya. Milka menghubungi ibunya di desa, menceritakan kabar gembira ini. Suara haru dan bangga terdengar dari seberang telepon.
Milka duduk termenung di tepi pantai, hijab instannya seakan menari-nari mengikuti irama angin pantai , terkadang menutupi wajahnya terkadang tersibak memperlihatkan senyumnya yang ceria “ kenapa aku harus membenci duri, sedangkan ia berasal dari mawar yang ku cintai,” bisiknya pada diri sendiri.
Milka meneteskan air mata haru. Ia tahu bahwa semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Ia telah berhasil meraih cita-citanya dan membahagiakan orang tuanya. Milka, mawar yang kuat, telah membuktikan bahwa duri-duri yang pernah menusuknya telah membuatnya lebih indah dan bermakna. Ia siap melangkah ke dunia profesional, membawa semangat dan tekad yang sama untuk meraih mimpi-mimpi baru.

