
Mungkin saja, sebagian dari kita akan merasa aneh mendengar kata-kata “Bodoh Itu Gratis”. Seakan-akan ini kata-kata untuk menjustifikasi, merendahkan dan menghina seseorang yang tidak memiliki ilmu. Namun inilah yang pantas kita lebelkan bagi orang-orang yang tidak mau memanfaatkan apa yang telah Allah anugerahkan.
Sementara hakikat manusia adalah makhluk yang paling sempurna penciptaannya. Namun perlu diingat, untuk menjadi sempurna bukanlah perkara yang ringan sehingga manusia harus dibekali kemampuan mengelola alam semesta sesuai dengan amanah yang diembannya.
Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tetapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. bodoh atau kebodohan ialah tidak cerdas, kekurangan kecerdasan, pemahaman, sebab, kepintaran berjenaka atau pertimbangan. Dari dua devenisi kata bodoh diatas disimpulkan bahwa orang bodoh adalah mereka yang memiliki kemampuan, kecerdasan tetapi tidak mau menggunakan kemampuan dan kecerdasan tersebut sebagai rasa syukur atas anugerah yang telah Allah berikan.
Meskipun banyak orang yang percaya bahwa kecerdasan seseorang dapat diukur berdasarkan IQ yang dimiliki. Namun satu hal yang pasti, kecerdasan dapat diraih dengan banyak membaca/berliterasi dan jazam/komitmen yang kuat.

Bahkan dalam Al-quran perintah membaca/berliterasi dan mencari ilmu hal yang paling menonjol yang kerap kali ditemukan. Ini merupakan poin pentingnya pendidikan dan memperoleh pengetahuan dalam Islam. Perintah membaca yang terdapat dalam Al-Qur’an ini dapat mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan pribadi, serta berkontribusi pada perbaikan masyarakat.
Banyak ayat yang allah turunkan yang berkaitan dengan kewajiban membaca dan menuntut ilmu, diantaranya dalam surat Al-Kahfi ayat 66 Allah, S.W.T berfirman:
قَالَ لَهٗ مُوۡسٰى هَلۡ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنۡ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا
Artinya:
Artinya: “Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?“
Dalam Surat Shad ayat 29 Allah S.W.T juga berfirman:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”
Al-qur’an Surat Al Alaq ayat 1-5 Allah S.W.T juga berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah dan hadist Rasulullah, yang berhubungan dengan membaca dan menuntut ilmu pengetahuan.
Disini juga perlu digaris bawahi bahwa, tidak ada manusia yang tidak mampu, tidak ada manusia yang tidak bisa dan tidak ada manusia yang tidak sukses. Semua itu bakal diraih dengan adanya tekat, jazam atau komitmen yang kuat. Ibarat besi yang padat dan keras bisa menjadi parang, pisau, rel dan sebagainya dengan proses usaha, pembuatan dan pemukulan yang keras dan kuat.

Ada banyak sekali metode untuk meningkatkan kemampuan koqnitif seseorang dan menjadi lebih efektif. Salah satunya, motivasi dan tekad menerapkan kebiasaan baru ke dalam aktivitas rutin dan memberikan stimulasi yang tepat untuk mempertajam kecerdasan dengan cepat sehingga jadi lebih terinspirasi untuk menghadapi tantangan baru setiap hari.
Nah, SMA IT Assalam Islamic School mengambil peran penting untuk menghapus lebel “bodoh Itu Gratis” pada lingkungan dan warga sekolah dengan membina dan melatih siswa-siswi hingga membaca/berliterasi menjadi budaya kuat dan skaral dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Menimbang, perintah membaca dalam Al-Qur’an merupakan seruan yang ampuh untuk mencari ilmu, melestarikannya, dan memanfaatkannya untuk kebaikan yang lebih besar. Diharapkan juga, sebagai pegingat umat Islam tentang pentingnya nilai pendidikan, literasi, dan berpikir kritis. Melalui membaca dan mencari ilmu, umat Islam dapat memperkuat iman, memperbaiki kehidupan, dan berkontribusi pada perbaikan masyarakat dan peradaban ummat selanjutnya.

Ayo berliterasi dan menulis. Jangan biarkan krisis literasi lintas generasi membudaya di masyarakat khusunya dalam dunia pendidikan. Untuk apa hidup kalau tidak mewarisi sesuatu yang bermakna dan bermanfaat untuk generasi selanjutnya. Ingatlah, satu peluru mungkin hanya mampu menembus 1 otak manusia, tetapi hanya dengan satu kata mampu menembus ribuan bahkan jutaan otak manusia.
Akhir kata, saya teringat salah satu bait dari seorang musisi Aceh, Bang Rafli kande dalam salah satu lagunya “ menyoe tan tinggai meuba’inah, pane na lumah geutanyoe awaina”.

