“Transformasi Pendidikan Dayah AIS: Merangkul Teknologi, dan Membangun Masa Depan”

Sudah 1499 tahun berlalu semenjak baginda nabi muhammad SAW dilahirkan ke dunia ini, seiring berjalannya waktu dunia terus berputar mengikuti zaman, teknologi juga terus berkembang pesat hampir semua sektor telah berhasil dipengaruhinya. Perubahan demi perubahan terus terjadi, berbagai lembaga di indonesia khususnya di aceh juga tidak luput dari perubahan yang terjadi bahkan dayah-dayah di Aceh juga mulai menjadi sasaran selanjutnya dari perubahan tersebut. Jika dahulu, santri hanya dituntut untuk fokus memahami kitab kuning dan ilmu non formal lainnya, namun sekarang di samping harus memahami kitab kuning para santri juga dituntut agar bisa mahir di bidang lainnya sehingga membuat para santri akan mampu mengejar ketertinggalannya dari perubahan yang ada. Maka ini menjadi sebuah tugas bagi guru-guru dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Berkembangnya teknologi mungkin adalah salah satu alasan dari berbagai perubahan yang telah terjadi. Gadget adalah salah satu yang berperan besar dalam terjadinya perubahan yang ada, banyak-orang orang termasuk santri yang menjadi korban atas penyalahgunaan benda pipih tersebut akan menjadi susah fokus terhadap apa yang sedang dipelajarinya.

Dayah Assalam islamic School (AIS) salah satu dayah di Aceh yang terletak di kabupaten Bireuen juga tidak luput dari perubahan yang terjadi perlahan teknologi mulai merambat sedikit demi sedikit merasuki berbagai sistem yang ada. Demi melihat perubahan yang terjadi, lembaga dayah AIS mulai berupaya mencari penyelesaian dari masalah tersebut upaya demi upaya dikerahkan dalam menggali berbagai metode-metode untuk mengatasi masalah yang terjadi. Evaluasi adalah salah satu bukti nyata bahwa dayah AIS terus berkembang mengikuti zaman dan teknologi, dahulu evaluasi hanya berlandaskan selembaran kertas saja namun, setelah jerih payah dari bidang pendidikan dan guru-guru pada akhirnya berhasil merubah hal tersebut. Sekarang evaluasi telah dilaksanakan secara online melalui website-website yang telah disiapkan. Tidak berhenti disitu upaya demi upaya masih terus dikerahkan sistem demi sistem dijalankan demi mencapai sebuah keseimbangan, di tambah lagi saat ini santri sedang berada di dalam masa pancarobanya, masa dimana mereka sedang berkeinginan mencoba dan ingin merasakan semua sensasi yang ada membuat mereka akan lebih susah fokus.


 Berbagai cara dilakukan demi memudahkan santri dan memfokuskan pikirannya dalam kegiatan belajar salah satu sistem yang masih aktif hingga saat ini adalah sistem pendidikan, Setiap santri secara umum dari ruang lingkup belajar-mengajar di kategorikan menjadi 3 periode atau gelombang   :

1. Metode TALAQQI.
Metode ini adalah metode yang pertama akan dilalui oleh santri, ini diberlakukan mulai dari kelas 1 – 3 dalam periode ini guru akan membacakan kitab atau ilmu dan santri akan menyimaknya seperti yang sudah biasa kita praktekkan dalam proses belajar mengajar di kehidupan sehari hari.

2. Metode Mutholaah.

 Beranjak ke fase selanjutnya kelas 3 – 4, pada fase ini santri akan dilatih menjadi lebih mandiri guru hanya akan memberikan maqra’ (batas baca) yang Maqra’ tersebut  esoknya akan di bacakan oleh santri yang terkena giliran dan guru akan mengoreksinya apabila terjadi kesalahan.

3. Metode Mubahasah

 Fase terakhir adalah mubahasah yang berlaku di kelas 4 – 6 Guru hanya akan memberikan inti permasalahan, kemudian santri akan berusaha mencari penyelesaiannya di kitab-kitab lain setelah berhasil mendapat rujukannya masing-masing barulah kemudian mereka akan saling beradu argumen hingga nantinya akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang tak lain adalah penyelesaian dari inti permasalahan tersebut. 

Dalam mendukung mubahasah ini LPI AIS telah mendirikan sebuah perpustakaan yang diberi nama Lajnah Bahtsul Masail ( LBM ) yang tentu di dalamnya berisi kitab-kitab lainnya agar memudahkan santri dalam mencari sumber sumber penyelesaian masalah.

Setelah memastikan sistem berjalan, selanjutnya dalam upaya mengecek kembali kapasitas santri dayah AIS menyelenggarakan ujian di setiap tahunnya, uniknya ujian yang dilaksanakan agak sedikit berbeda dari dayah-dayah lainnya. Di dayah AIS ujian dibagi menjadi 3 fase yang berbeda tentu masing -masing fase memiliki tujuannya tersendiri.

1. Ujian tulisan ( امتحان التحرير

Pada fase pertama ini santri akan di tes sudah sejauh mana tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari beberapa bulan yang telah berlalu.

2. Ujian Baca (امتحان التقرير )

    Setelah berhasil menguasai materi yang telah dipelajari pada fase selanjutnya ini santri harus memperlihatkan kemampuannya dalam menerapkan materi yang telah di kuasai melalui membaca kitab-kitab kuning.

3. Presentasi

 Pada akhirnya setelah mampu melewati fase di atas pada fase terakhir ini akan memperlihatkan kemampuannya dalam menyampaikan materi mencakupi bahasa yang digunakan.

Sehingga kelak ilmu yang terletak dalam dirinya tidak hanya berdiam di dalam satu hati namun bisa terus merambat dan tersampaikan hingga ke seluruh penjuru dunia dan dapat menjadi seorang manusia yang bermanfaat, karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain sesuai yang di paparkan dalam hadis nabi muhammad SAW

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya : “Sebaik- baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain”. (HR.Ahmad).

Ditambah lagi beberapa tahun silam, Tgk. Ahmad Zaini Dahlan selaku ketua bidang pendidikan di LPI Assalam berhasil melakukan terobosan yang sangat bermanfaat bagi santri dalam ruang lingkup belajar-mengajar. Dengan dikembangkannya sebuah buku yang diberi nama “Buku Ringkasan” yang akan sangat berpengaruh kedepannya bagi santri. Buku tersebut menyajikan tentang ringkasan atau poin-poin penting dari sebuah ilmu secara rapi dan teratur sehingga membuat para pelajar lebih mudah dalam mengingat poin-poin penting yang terkandung di dalam sebuah ilmu. Buku ini juga berperan untuk lebih dahulu memperkenalkan kepada santri ilmu yang hendak dipelajarinya, sehingga di saat kegiatan belajar tiba mereka tidak akan merasa asing dengan apa yang hendak dipelajarinya. Buku ini telah terbukti keefektifannya bahkan telah dilakukan riset oleh beberapa master dan Alhamdulillah mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dan terbukti efektif, buku ini juga telah mendapat pengakuan dari berbagai dayah di aceh akan keefektifannya.

Tapi jangan salah paham, di samping berjalannya sistem-sistem tersebut, dayah AIS juga tidak lupa untuk menyediakan ekstrakurikuler lainnya bagi santri-santri mereka dapat memilih sesuai bidang yang diminatinya. karena menurut yang disampaikan oleh Tgk. Wadudu Hasmuni SP.d selaku wakil ketua bidang pendidikan “Bahwa Harapan kami (bidang pendidikan) kedepan semoga lulusan-lulusan santri AIS bisa menjadi seorang pemimpin di bidang yang digelutinya”, dalam artian jika dia ingin menjadi seorang fotografer maka jadilah pemimpin fotografer dalam artian fotografer yang handal di bidangnya begitu juga dengan bidang-bidang lainnya.

Terlebih lagi baru-baru ini melalui adanya program AMANAH goes to dayah, lembaga pendidikan dayah AIS bekerjasama dengan pihak AMANAH untuk menciptakan anak muda Aceh yang unggul dan hebat. AMANAH dengan berbagai sektornya menawarkan dan menyediakan kesempatan kepada para santri dan guru yang nantinya di kemudian hari di akan bimbing sesuai dengan bidang yang diminatinya antara lain sektor pendidikan, UMKM, Olahraga dan lainnya.. dengan terjunnya pihak AMANAH di berbagai dayah di aceh membuat menurunnya angka santri pengangguran melalui program tersebut. Ini juga menjadi pembenaran dari perkataan ayahanda Tgk.H.M. Yusuf bin Abdul wahab atau kerap di kenal dikenal dengan Tusop Jeunieb. “Bagaimanapun Allah yang menciptakan lapar,kita butuh makan Allah pula yang menciptakan haus, kita butuh minum dan kita juga butuh fasilitas fasilitas”. Maka untuk mencapai semua itu kita butuh yang namanya harta sehingga tidak cukup dengan ilmu agama namun kita juga butuh ilmu lainnya seperti wirausaha sehingga akan terciptanya sebuah keseimbangan dan pada akhirnya akan saling menguatkan.

Insyaallah perjuangan ini akan terus berlanjut seiring berjalannya waktu, LPI AIS akan terus berusaha menyesuaikan diri mengikuti berbagai perubahan yang ada dan menjaga keseimbangann di tambah dengan hadirnya pihak AMANAH ini tentunya akan sangat membantu dalam mewujudkan sebuah dayahpreneur kelak di masa mendatang AAMIIINN.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *