
“Dalam secangkir kopi terdapat berjuta inspirasi”, begitu bunyi salah satu ungkapan bijak yang menggambarkan estetika seduhan minuman yang khas dengan rasa pahitnya. Coffee nama yang dipakai orang-orang Barat untuk menyebut minuman yang diseduh dari biji berwarna hitam melengkung dengan paduan ukiran yang estetik pada belahan setiap bijinya. Orang Arab menyebutnya qahwah. Sementara orang Indonesia memberinya nama kopi
Sejak lama, kopi telah menjadi minuman yang diminati sebagai penghangat diskusi, pelengkap tongkrongan maupun menu sarapan pagi di belahan dunia. Kopi telah menemani orang-orang tanpa mengenal profesi dan sekatan usia. Kaum tua maupun kawula muda tersihir oleh kenikmatannya. Tidak hanya di daerah penghasilnya, tetapi juga berbagai negara.
Aceh, sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi berkualitas dikenal sebagai surganya para penikmat kopi. Betapa tidak, nyaris di setiap sudut negeri berjejer warung yang menawarkan seduhan kopi dalam beragam jenis dengan cita rasa berbeda-beda. Mulai dari jenis espresso yang diolah secara modern, hingga ‘kupi sareng’ yang diseduh dengan cara klasik. Bagi orang Aceh, kopi adalah kehidupan. Tiada hari tanpa ngopi.
“Keureuleng nggang keu abeuk, keureuleng canggung keu paya” (kerlingan bangau tertuju pada rawa-rawa, kerlingan kodok tertuju pada genangan air). Kiasan ini tepat disematkan kepada Teungku Razali, seorang santri Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Kab. Bireuen, Aceh. Baginya, fenomena candu kopi bukan sekedar dipandang sebagai fenomena sosial biasa. Tetapi ini adalah peluang bisnis yang menjanjikan. Sebagai putra yang dibesarkan di daerah penghasil kopi, ia tidak asing dengan biji dan minuman yang katanya minuman para sufi ini. Tentu saja wawasan dasar ini menjadi modal yang membuatnya semakin optimistis berwirausaha berbasis kopi. Dan benar saja, pada awal tahun 2020 ia merintis usaha berbasis biji kopi.

Bisnis Goga Processing dan Alehba Coffee
Saat ditemui penulis pada Rabu, 27 Juli 2024 di Jeunieb, ia berkisah tentang bisnis kopi yang digelutinya. Pria kelahiran 1997 ini mengaku sejauh ini menggeluti dua usaha berbasis kopi. Menjadi produsen sekaligus supplier biji kopi Gayo siap olah dengan brand Goga Proccessing dan Gerai kopi yang diberi nama Alehba Coffee.
Goga adalah brand produk biji kopi gayo berkualitas tinggi yang diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan cita rasa kopi terbaik. Setelah melewati proses pengolahan secara sempurna, produk ini kemudian dipasarkan untuk warung-warung kopi sebagai bahan baku pembuatan kopi.
Goga adalah singkatan dari Golden Gayo yang secara implisit menjelaskan bahwa produk yang ditawarkan adalah biji kopi berkualitas tinggi yang berasal dari daerah Gayo, dataran tinggi penghasil kopi berkualitas International di Aceh. Sesuai namanya, produk ini dari hulu ke hilir diupayakan agar menghasilkan kualitas yang tinggi.
“Kopi Gayo berkualitas tinggi ditanam di ketinggian 1.300-1.600 mppl. Dan Goga sendiri merupakan biji kopi Gayo pilihan”, akunya sambil memperlihatkan biji kopi Goga di genggamannya.
Menurutnya, selain biji, salah satu proses yang menentukan adalah roasting. Roasting adalah proses pemanggangan biji kopi untuk menghasilkan aroma dan rasa yang khas. “Aroma, kadar rasa manis dan asam kopi ditentukan pada proses roasting”, jelas Teungku muda ini.
Goga Processing memproduksi tiga jenis kopi. Origin Arabica, Origin Robusta dan House blend. House Blend sendiri adalah jenis kopi perpaduan antara 70% Arabica dan 30% Robusta. Menurutnya, dari tiga jenis kopi ini, House Blend paling laku di pasaran. Sebab jenis ini adalah penghasil kopi espresso yang paling diminati masyarakat Aceh sejauh ini.
Hingga saat ini, produk olahan teungku dayah ini telah menemukan pasar di kawasan Bireuen, Pidie Jaya, Pidie, Banda Aceh, Lhokseumawe dan Langsa. Dan soal harga sendiri bervariasi tergantung jenisnya. Harga dipatok mulai dari Rp. 8.000,- hingga Rp. 18.000,- per gram dengan omset rata-rata perbulan Rp. 40.000.000,- sampai Rp. 60.000.000,- dengan keuntungan bersih rata-rata 10 % hingga 20 %.
Di samping sebagai produsen dan supplier bahan baku yang menyasar warung kopi, Tgk Razali juga menyasar para penikmat kopi dengan membuka gerai kopi. Usaha gerai kopi ini diberi nama Alehba Coffee. Gerai ini berlokasi di depan komplek Dayah Babussalam Al-Aziziyah, tepatnya di pinggir jalan Banda Aceh – Medan, Kec. Jeunieb, Kab. Bireuen, Aceh. Gerai kopi minimalis bernuansa kecoklatan dengan konsep terbuka ini dimaksudkan selain sebagai penyedia kopi khas berbahan baku Goga, juga menjadi outlet sekaligus ‘dapur’ standar peracikan produk Goga miliknya agar menghasilkan cita rasa kopi yang nikmat. Sehingga, dalam memasarkan produk biji kopi Goganya, ia menyediakan outlet resmi yang sekaligus menjadi ‘laboratorium’ bagi konsumen bubuk kopi Goga dalam menghasilkan cita rasa kopi yang memanjakan penikmatnya. Hal ini tentu saja menjadi nilai tawar lebih bagi pengusaha warung kopi untuk memilih Goga sebagai bahan baku usaha kopinya.
Sebagai gerai penyedia kopi, Alehba Coffee menyasar masyarakat sekitar, pelintas di jalan Nasional dan tentu saja para santri, ustadz dan wali santri Dayah Babussalam Al-Aziziyah. “Alhamdulillah, lumayan banyak sopir minibus dan truk yang sudah nyaman dengan kopi racikan kami, santri, ustadz dan wali santri yang berkunjung juga senang nongkrong sambil menikmati tegukan produk kami.”, kisahnya. Bagi para ustad dan santri Dayah Babussalam Al-Aziziyah, Alehba coffee menjadi wadah untuk mereka melepas penat ditengah jadwal belajar yang ketat, juga menjadi tempat untuk berdiskusi, mengkaji ilmu dan bersilaturrahmi.

Selain menawarkan kopi dengan cita rasa terbaik, Alehba Coffee juga menawarkan harga kopi yang bersaing. Alehba Coffee mematok harga Rp.8.000,- hingga Rp.12.000,-. Harga ini terbilang murah dibandingkan dengan warung kopi lain yang mematok harga Rp.10.000,- hingga Rp. 17.000,-. Saat ditanya mengapa ia mematok harga lebih murah, ia ingin Alehba Coffee ini hadir memfasilitasi masyarakat Aceh dan para santri agar bisa menikmati hasil kopi berkualitas yang tumbuh di atas tanahnya sendiri dengan harga terjangkau.
Selain soal cita rasa kopi, brand Alehba sendiri juga memiliki filosofi tersendiri bagi Tgk Razali. Nama Alehba diambil dari dua huruf awal dalam aksara Hijaiyah, Alif dan Ba. Sebagaimana maklum, huruf Hijaiyah adalah cikal bakal ayat Alquran. Dan belajar huruf Hijaiyah adalah batu loncatan untuk belajar membaca Alquran. Dari nama ini ia berharap, gerai Alehba yang dibangunnya menjadi pijakan awal untuk membangun bisnis yang lebih luas serta hasil bisnisnya itu kemudian berkah dan menjadi modal baginya untuk membantu kawan-kawan di dayah yang membutuhkan sebagai amal akhirat.
“Alhamdulillah dari hasil usaha ini, sejak beberapa tahun terakhir setiap bulan suci Ramadhan kita menyediakan menu sahur dan berbuka puasa gratis untuk teman-teman ustadz di Dayah Babussalam Al-Aziziyah. Semoga kita bisa membantu lebih banyak orang ke depannya”, terang pria kelahiran Dusun Suka Mulia, Desa Suka Jadi, Kabupaten Bener Meriah ini sambil berharap.
Modal Patungan dan Cita-cita Pengembangan ke Depan

Dalam berwirausaha, pria berusia 27 tahun ini tergolong anak muda yang kreatif, visioner dan memiliki hati yang mulia. Betapa tidak, sebagai orang yang cukup paham tentang kopi dan memiliki modal yang memadai untuk merintis bisnis kopi secara mandiri, ia memilih untuk tidak membangun bisnis ini seorang diri. Sejak awal ia mengajak teman-teman seperjuangannya di dayah untuk secara bersama-sama mencari peruntungan. Selain dirinya yang memang menjadi ‘aktor utama’ dalam usaha ini, ia turut mengikutsertakan beberapa teman sesama ustadz di dayah Babussalam Al-Aziziyah untuk patungan memodali sekaligus belajar berwirausaha dalam usaha ini. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ – رواه االبزار والحاكم
Artinya: “Nabi saw pernah ditanya; usaha apa yang paling baik? Rasulullah saw menjawab: pekerjaan (usaha) seseorang dengan tangannya dan jual beli yang baik.” (HR. Al Bazzar dan al-Hakim).
Pada penulis ia berharap kelak usaha Goga Proccessing dan Alehba Coffe sampai pada masa keemasannya. Ia berharap, Goga Proccessing tidak hanya diterima di pasar lokal, tetapi juga menjadi produk yang menguasai pasar Nasional bahkan menjadi komoditi setengah jadi asal Aceh yang disegani di pasar ekspor. Sementara untuk bisnis Gerai Alehba Coffee, ia berharap pada suatu saat Alehba Coffee akan membuka gerai di banyak tempat. Terutama di daerah pasar berbasis ustadz dan santri dayah. Sehingga selain memperlebar sayap usaha, bisnis ini juga turut dapat membuka peluang usaha bagi teungku-teungku dayah yang lebih banyak.
Namun untuk mengembangkan usaha, selain merpersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, ia mengaku juga membutuhkan ketersediaan modal yang cukup. Bagi pelaku bisnis tentu saja ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Terlebih ia mengunci akan memprioritaskan teman-teman dari kalangan teungku dayah yang membutuhkan biaya sebagai partner. Karena menurutnya, teungku-teungku dayah perlu didorong untuk berwirausaha sebagai instrument untuk mandiri secara finansial. Tetapi di sisi yang lain dukungan modal dan upaya menumbuhkan jiwa enterpreuner di kalangan teungku dayah menjadi tantangan tersendiri. Sebab selain kesulitan dalam soal modal awal, santri dayah juga minim wawasan dan pengalaman dalam bidang enterpreuner.
Di tengah kebuntuan tentang bagaimana secara cepat wirausaha dapat berkembang luas di kalangan dayah, angin segar berhebus. Pemerintah melalui gagasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) menginisiasi program unggulan yang berkonsentrasi menumbuhkan jiwa enterpreuneur di kalangan dayah. Program yang diinisiasi untuk memberdayakan potensi-potensi anak muda khususnya santri dalam mengembangkan talenta dan kreativitas di berbagai bidang, seperti UMKM, pertanian, perikanan, seni budaya dan teknologi ini diberi nama Amanah dayahpreuneur. Sejak disosialisasikan beberapa waktu lalu, program ini mendapat perhatian yang positif dari berbagai kalangan. Terutama kalangan santri dan dayah. Sebab kehadiran AMANAH dengan program unggulannya, dayahpreuneur dapat mengiringi langkah santri untuk berwirausaha.
Program unggulan Amanah dayahpreneur dipandang menjadi pijakan bagi para santri dan kalangan dayah dalam mengembangkan usaha, bakat, dan talenta melalui berbagai program pelatihan, pembinaan, dan inovasi produk agar dapat membangun dan mengembangkan usaha yang sukses di masa yang akan datang.



