Kakiku terduduk lesu ketika aku kembali melihat rumah itu. Rumah krong bade yang sudah lama kutinggalkan. Segala sudut masih sama, baunya membuatku terhanyut dalam tsunami nostalgia. Semuanya membuatku mengulang kenangan.
Tentang rumah, tentang mutia, tentang kuah pliek u, tentang pusara ayah, dan pastinya tentang ibu. Hah….. ingin rasanya aku berteriak betapa bodohnya aku, ketika aku lari, pergi dari tanah adat ini, meningalkan ibu, meninggalkan pusara ayah, meninggalkan mutia, dan meninggalkan budaya yang mengalir bersamaan dengan tanah ini.
Namun kini ku kembali, walau itu terlambat, didepan rumah sudah berkibar bendera merah, tenda-tenda sudah terpasang rapi, dan dibawahnya, aku duduk termangu menatap pusara ibu.
Segala kenangan kini diputar kembali,layaknya kaset usang yang memutar semua memori. Aku mengingat kembali pada malam itu, malam dimana aku menjalankan kata “pergi”. Malam itu rembulan bersinar terang, bintang-bintang berkilauan, suara binatang berpadu dan menyatu bagai orkesta tengah malam. Malam itu seharusnya menjadi malam yang hangat untuk berbagi cerita, berbagi rasa, memenuhi ruangan dengan canda tawa. Namun di rumah ini, malam itu malah menjadi malam kesedihan, penuh tangisan, dan malam itu adalah malam perpisahan.
“Mak, tak akan mengerti!” Suaraku meninggi.
“Apalagi yang tak Mak mengerti darimu, Bumi!” Ucap ibu membentak, urat-urat dilehernya tampak, namun dibaliknya ia terluka.
“Bukan tanpa sebab, tanah ini memenjarakanku, aku tak punya tempat disini.” Ucapku dengan napas yang memburu.
“Ingat Bumi, kamu adalah anak aceh! Di dalam dirimu mengalir darah pejuang, ‘Adat bak PO TEUMEURUHOM, hukom bak syiah kuala, qanun bak putro phang, reusam bak laksamana’ itu adalah asasmu Bumi, itu adalah pondasi hidupmu.” Ucap Ibu, matanya menatap tegas mataku.
“Bumi ketahuilah, rumah ini bukan hanya rumah, tanah ini bukan hanya tanah, ini adalah warisan Bumi, ini adalah tempatmu pulang!” Ucap ibu sambil menggepalkan tangan, namun dibalik sorotan matanya, jelas ia terluka.
“Maafkan aku Mak, namun sudah ku putuskan bahwa VR dan ibu kota adalah masa depan yang harus aku genggam, dan untuk terakhir kalinya Mak, maafkan aku…” Ucapku pelan, namun bagi ibu, itu sangat mendalam dan menghantam keras sanubarinya.
“Pergilah Bumi, namun jangan kembali hanya karena kamun lelah.” Ucap ibu ketika itu, pelan, dan sangat menghantam.
Ibu menangis, jelas ia tak ingin aku pergi, ia ingin warisannya abadi, namun egoku yang tinggi malam itu membuat ku pergi, dan lari dari tanah adat ini. Dan rumah krong bade adalah saksi terakhir, malam itu dibalik papan kayunya yang dingin, angin berdesir, membuat suasana malam itu semakin menyedihkan.
“Bumi.” Suara itu mengagetkanku, aku menoleh, dan ternyata itu suara Mutia. Ketika aku melihatnya, tangisku semakin menjadi-jadi, renjanaku benar-benar menggoncang atma, lihatlah. Sorot matanya, setiap garis mukanya, aku seolah kembali melihat Ibu. Perlahan Mutia mendekatiku, dia memegang pundakku, dan dengan hangat ia berkata”Bumi, tenanglah, Kakak yakin Mak, pasti tak ingin melihat kau sedih.” Ucap Mutia menguatkanku, kata-kata itu begitu hangat walau terluka ia tetap memberiku semangat. Hal ini tak pernah terjadi saat aku di ibu kota.
Aku masih lanjutan kisah malam itu, malam dimana aku hengkang dan menjalankan kata “pergi” dari tanah adat ini. 2425 kilometer, jarak yang aku harus tempuh malam itu, dan malam itu adalah malam pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah ibu kota. Dan aku sepenuhnya salah, saat aku pikir meninggalkan rumah adalah kebebasan, saat kupikir ibu kota dan VR adalah surga yang memberiku harsa tanpa batasnya.
Bulan-bulan awal aku disini, terasa begitu sunyi, sendiri, dan begitu asing di tempat ini. Hidupku begitu monoton, aku terlelap dalam dunia visual, dan bagiku hidup ini layaknya fatamorgana.
Namun memasuki tahun ke-tiga aku disini, hidupku berubah, aku terlalu sibuk mengejar tenggat waktu yang di berikan oleh PT. DHARMA JAYA kepadaku, namun ini bukan hanya tentang deadline yang semakin dekat, bukan pula tentang tugas yang menumpuk, namun ini adalah tentang tema yang mereka berikan. “Modernisasi adalah penghapus budaya.” Sungguh ironis tema yang dulu membuatku hengkang dari tanah adat, kini malah menjadi tema yang memenuhi impian masa lalu.
Aku terlena, sehingga malam itu tiba. Malam itu dengan setelan tuxedo yang sangat rapi aku berjalan di atas permadani merah, memasuki gedung yang begitu megah. Malam ini aku tak lagi melangkah diatas tanah berbatu, tak lagi memakai baju adat seperti dulu, dan tak lagi memasuki rumah Krong Bade yang sarat akan kenangan.
Seharusnya malam itu adalah malam terbahagia dalam hidupku, karena semua mimpiku tercapai, namun entah mengapa, malam itu malah terasa janggal, aku merasa kosong ketika ibu tiada, dan dibalik semua kesenangan malam itu, aku malah merasa semua ini palsu, layaknya VR, hanya indah dimata namun tak pernah sampai kedalam jiwa.
Kini lampu panggung itu redup, aku selesai dengan tugasku, sorakan dan tepuk tangan kini memenuhi gendang telingaku. Aku perlahan turun dari panggung mewah itu, namun secara mendadak saku di tuxedoku bergetar, aku bergegas mengambil ponsel di dalamnya, aku begitu terkejut, nama yang sudah tak lama lagi muncul di laman WhatssApp-ku, kini muncul kembali, “MAK.”
Kata yang sudah lama tak aku ucapkan, kini muncul kembali, membuat atmaku goyah, seolah tak ada yang beres, akupun bergegas mengangkat panggilan itu.
“Halo, Mak.” Ucapku pelan. Namun di seberang sana masih sunyi tak ada yang menyaut.
Hingga tarikan napas panjang terdengar dari seberang sana “hai, Bumi.” Terdengar suara yang amat pilu dari seberang sana. Namun itu bukan suara Ibu, namun itu bukan asing, itu suara Mutia.
“Pulanglah Bumi…pulanglah.” Ucap Mutia, dengan suara yang amat pilu.
“Ada apa, Mutia?” Tanyaku dengan suara yang amat cemas. Ucapan pilu Mutia membuat atmaku goyah.
“Ibu sudah tiada Bumi, ibu sudah pergi!” Ucap Mutia, suaranya begitu kacau, dia menangis histeris.
Kata-kata Mutia bagai palu yang menghantam keras dadaku, aku terduduk lesu, sorakan dan gemerlap lampu seolah ikut merayakan kesedihanku, “Mak..” aku berteriak menggila, aku berlari, semua mata menatap ke arahku, namun bagiku semua itu semu, dalam panca indraku hanya terbayang tentang Ibu.
Kenangan itu runtuh perlahan, bagai banjir yang menarik semuanya dari permukaan, aku runtuh secara perlahan, tanpa sadar tanpa sadar kakiku bergerak, mendekati pusara Ibu.
Meninggalkan Mutia di belakangku, di samping tanah yang ditimbun itu, aku berkata lirih “ Mak, lihat aku Mak, kini aku sudah pulang, walau terlambat, aku berjanji memperbaiki semua ini!” Ucapku dengan suara tinggi memecah sunyi, walau aku sadar seberapa tinggi aku bersuara Ibu tak akan kembali.
Hari ke delapan aku disini, kondisiku mulai membaik, walau tetap kepergian Ibu, meninggalkan luka besar di hatiku, kini aku terpaku di jendela, aku menatap keluar, melihat indahnya pemandangan, di setiap halaman rumah terasa begitu rindang dipenuhi berbagai tanaman, kontras sekali dengan perkotaan yang begitu gersang.
“Hai, Bumi.” Sapa Mutia.
“Hai, Kak.” Aku balas menyapanya.
“Bagaimana Bumi? Apakah kau akan pulang lagi ke ibu kota Bumi?” Tanya Mutia, matanya menatap ke arahku.
“Entahlah Kak, aku masih gamang,” Ucapku dengan wajah yang begitu ambigu.
“Tahukah kau Bumi, mungkin bagi sebagian orang budaya itu membosankan, tapi sebenarnya budaya itu malah mengajarkan kita arti “pulang” itu bukan hanya kata Bumi, namun juga makna yang sangat mendalam, budaya tak dilihat dari bentuknya Bumi, budaya harus dilihat dari maknanya.” Nasehat Mutia, sambil tersenyum ke arahku.
Perkataan Mutia, mengenai hatiku, aku seolah mendapatkan cahaya ilahi darinya, namun aku masih termenung dan bingung, apakah aku harus pulang dan melanjutkan warisan, atau aku harus pergi lagi meninggalkan semua kenangan. Hah… aku jadi bingung sendiri, hingga sore hari aku duduk bingung di atas kursi kayu yang biasanya diduduki Ibu.
“Sa…dua…lhee…bet…” Suara itu mengagetkanku, aku berjalan keluar mendekati suara itu, aku terkejut ketika melihat di seberang rumah, mereka sedang mengangkat balee yang begitu besar itu bersama, terlihat canda tawa memenuhi area itu, walau berat ketika mereka melakukan bersama, pekerjaan itu terasa ringan, dan malah menyenangkan.
Tanpa sadar aku juga merasa bahagia ketika aku melihat mereka tertawa, seolah ada yang memecah batu besar di hatiku, seketika itu juga kekompakan mereka mengingatkan ku pada tarian Ibu, tarian ratoh jaroe yang biasa dulu ibu mainkan, tak hanya tentang gerakan yang menawan namun juga berbicara tentang kekompakan, dan semangat bergerak dalam satu irama.
Dan disaat itulah aku baru sadar, bahwa budaya juga berbicara tentang arti bekerja sama, kontras sekali dengan kehidupan kota, yang sangat individualis.
Tak hanya itu selama delapan hari aku disini aku belajar sesuatu, terkadang buku yang baik tak dilihat dari sampulnya namun isinya. Dan begitulah budaya, saat kita bergotong-royong bersama menganggkat balee, saat sama-sama kita meuripee, hal-hal sulit akan terasa mudah, hal-hal mustahil akan terasa nyata.
Dan esok harinya aku mendekati Mutia, dengan senyum lebar aku berkata padanya.
“Akhirnya Kak, sekarang aku paham, bahwa kini aku sudah benar-benar pulang, dan aku `berjanji, aku akan memperbaiki semua kesalahanku,” Ucapku berbinar-binar kepadanya.
“Lakukanlah Bumi, Kakak selalu mendukungmu!” Ucap Mutia, begitu senang.
Sorenya dengan poster yang menumpuk di tangan, aku berjalan berkeliling desa sembari kertas poster, sembari menjelaskan tentang rancangan besarku kepada mereka, tak ada yang menolak, malah ada di antara mereka tak sabar menunggu malam itu datang.
Malam itu tiba. Di depan balai desa warga berkumpul, 300 VR terpasang di kepala mereka, ketika benda itu diaktifkan, senyum mereka mengembang, mereka seolah ikut berdiri ikut menari di atas pentas, beberapa menangis, beberapa tersenyum bahagia, dan dibalik semuanya aku menatap Mutia dengan senyum lebar aku berteria ke udara “ Mak, aku berjaya” aku tersenyum bahagia, dan akupun sadar bahwa modern bukanlah hal yang terbaik dan budaya bukanlah hal yang buruk, terkadang kita harus memadukan semuanya, agar yang namanya warisan tak pernah lekang oleh zaman.
